TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN
Aku seorang wanita, cewek berumur 27 tahun. Aku adalah anak pertama dari ketiga bersaudara, ayahku seorang pemelihara ternak ayam dan ibuku seorang guru agama. Sejak kecil kami dibesarkan dan dididik dalam tradisi agama katolik, karena itu ayah dan ibu selalu mengajarkan kami untuk berdoa bersama dalam keluarga setiap hari sabtu malam dan kami dididik untuk selalu ke gereja pada setiap hari minggu. Pembentukan diri melalui tradisi katolik dalam kehidupan keluargaku inilah yang menjadi fondasi iman saya sepanjang saya menjalani kehidupan. Aku berusaha untuk hidup berdasarkan apa yang telah diajarkan oleh kedua orang tua sejak kecil. Sebagai anak sulung, saya harus menjadi contoh atau teladan bagi kedua adikku. Kehidupan rohani dalam keluarga seperti ini ditambah lagi dengan ibu saya seorang guru agama katolik, dia banyak bertemu dengan para Romo, frater, bruder dan suster. Bahkan ibu saya sangat aktif di gereja dalam kegiatan-kegiatan kerohanian. Kedekatan dan persahabatan baik antara ibu saya dengan para biarawan-biarawati membuat banyak Romo, suster, bruder dan frater sering berkunjung ke rumah. Setiap hajatan atau acara syukuran di rumah kami atau di rumah keluarga, ayah dan ibu sering mengundang para Romo, suster, bruder maupun frater datang kerumah. Pertemanan dan persahabatan orang tua saya dengan kaum religius ini membuat saya dan kedua adik saya banyak mengenal para Romo, suster, bruder dan frater, bahkan ada beberapa Romo dan suster yang menganggap kami sebagai bagian dari keluarga mereka, sesekali kami ke gereja bertemu dan bercerita berlama-lama dengan para Romo dan suster, sesekali mereka mengajak kami untuk berkenalan dengan keluarga dirumah mereka. Kedekatan dengan kaum biarawan-biarawati semakin menguatkan dan meneguhkan iman saya, dan membuat saya berusaha untuk menghayatinya dengan penuh kebebasan dan tanggungjawab. Kedua orang tua berusaha membimbing dan membentuk kami secara matang sebagai pribadi beragama katolik, sekaligus berusaha untuk menyekolahkan kami di sekolah yang bernaung dalam yayasan pendidikan katolik. Saya bersama kedua adik, sejak sekolah dasar sampai perguruan kami dibentuk dan diajarkan di sekolah katolik. Dengan ini saya semakin berusaha mengenal agama katolik secara lebih baik dan lebih mendalam.
Setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, saya melamar kerja pada satu lembaga pendidikan yang juga masih dibawa naungan yayasan pendidikan katolik. Aku diterima dan mulai mengajar di sekolah itu. Awal sebagai seorang guru, aku harus banyak belajar dan banyak mencaritahu tentang pendidikan di sekolah itu melalui teman-teman guru yang sudah lebih lama mengajar disitu. Aku berusaha keras agar menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anak murid disekolah dan berusaha membangun relasi baik dengan teman-teman guru. Pada lembaga pendidikan inilah aku mulai berkenalan dengan seorang cowok untuk menjalani hubungan privasi, dengan kata lain berpacaran dengan dia. Dia adalah seorang dosen yang mengajar disalah satu universitas. Kami bertemu pada salah satu kegiatan workshop pendidikan, kebetulan beliau adalah seorang narasumber pada kegiatan tersebut. Awalnya saya hanya sekedar bertanya tentang sesuatu pada beliau yang masih berkaitan dengan workshop tersebut.
Ternyata kedekatan awal lewat pembicaraan itulah tumbuh benih cinta yang terdiam dalam nurani. Sebagai seorang wanita dan seorang pendidik biasa berstatus rendah, aku tidak memiliki rasa itu, hanya ketidaktahuan tentang sesuatulah yang mendorong saya untuk bertanya pada dia. Selesai kegiatan, kami bercerita sebagai peserta dan narasumber seperti biasanya diakhir dari sebuah kegiatan selalu ada tempat berkumpul untuk diskusi atau cerita-cerita ringan tentang sesuatu yang tidak dikonsepkan sebelumnya. Sebagai seorang dosen dan juga narasumber dalam kegiatan workshop itu, saya tidak sengaja meminta nomor handphonenya. Chatingan-chatingan di whatshap pada awalnya boleh dibilang resmi atau sangat formal karena kami berdiskusi tentang dunia pendidikan, dan saya sebagai seorang guru berpikir untuk mendapatkan masukan yang berarti demi proses belajar mengajar saya. Sedikitpun saya tidak berpikir tentang suatu rasa aneh yang ada pada dirinya yang perlahan tumbuh kepermukaan bagai hujan menyirami bibit dan tumbuh memenuhi seluruh tanah di kebun. Suatu malam pada jam 22.00 (jam 10 malam) ada bunyi notifkasi whatshap terdengar, saya coba membuka dan melihat ternyata dari si dia. Pesan itu berisi sapaan selamat malam.. tidak ada kata-kata lain yang mengikutinya. Seperti biasa saya membalas dengan selamat malam juga. Pesan whatshap saya dibalas dengan satu kalimat yang tidak terpikirkan oleh saya, balasan itu isinya mengungkapkan sebuah rasa yang terpendam sekian waktu bergejolak dalam dirinya. Kata-kata yang termuat dalam kalimat ungkapan hatinya itu membuat saya gregetan dan saya harus jujur bahwa hati saya seakan duk-dak tanpa beraturan, jantung berdebar cepat seakan saya sedang dalam sebuah perlombaan lari. Pesan itu berbunyi "Aku suka pada dirimu, caramu membuatku kagum dan terpesona dan membuat denyut jantungku berdebar cepat dan mulutku harus jujur mengatakan bahwa aku pingin kita menjalani hubungan bersama" Kalimat ini sangat formal dan seperti sebuah pembicaraan yang sunggah amat resmi, tapi disitulah ungkapan keseriusan hatinya yang terdalam. Malam itu sepertinya saya sedang dalam sebuah pengadilan tentang keputusan nuraniku pada apa yang terungkap dari hatinya lewat pesan whatshap itu. Aku mulai mengingat-ingat kembali pembicaraan kami saat pertama aku berdiskusi dengannya, aku mengingat-ingat kembali chatingan kami beberapa minggu dan bahkan sebulan yang lalu, ada saat iseng yang kadang membuat kami harus jujur pada diri bahwa kami sama-sama punya rasa, tetapi tak sanggup terucap satu sama lain. Kami sama-sama memendam rasa itu dengan sangat rapih terbungkus dikedalaman hati kami masing-masing, hanya terucap lewat cara dan bahasa tubuh yang sesungguhnya menggambarkan bahwa aku suka dia dan dia suka aku...Sejak malam itu dan seterusnya kami saling kirim pesan lewat WA, sekedar tanya khabar satu sama lain, juga tentang sesuatu yang menjadi tugas pokok kami, apalagi saya yang harus banyak belajar tentang sesuatu yang berkaitan dengan tugas dan karya saya sebagai seorang guru, saya sering bertanya dan berkonsultasi ke dia. Setiap hari sejak bangun pagi hingga malam, selalu saja ada cerita diantara kami, kadang kami bertemu dan kadang juga hanya lewat whatshap, intinya setiap hari selalu saja saling tanya khabar dan lain-lain. Rutinitas seperti ini kami jalani bersama sebagai ungkapan kasih sayang diantara kami, apalagi rasa itu perlahan tapi pasti semakin mendalam diantara kami. Kujalani hari-hari hidup bersama dia walau kadang tugas dan tanggungjawab disekolah sangat tertumpuk dan melelahkan tapi selalu saja ada cerita yang kami kisahkan dihari-hari itu. Kami menjalani hubungan ini selama satu tahun, dan saatnya kami bersepakat untuk melanjutkan hubungan ini kejenjang yang lebih serius yakni bersepakat untuk menuju pernikahan, karena mengingat umur kami sudah menuju tiga puluhan tahun. Satu hal yang tidak pernah saya bayangkan yang akan menjadi penghalang besar hubungan kami adalah keyakinan kami masing-masing atau tentang agama masing-masing. Setelah satu tahun berjalan, saya mulai memberanikan diri untuk bertanya tentang keputusannya mengenai hubungan kami. Jawaban dari dia sungguh membuat saya semakin berani untuk tetap dekat dan menjalani hubungan dengan dia. Satu waktu kami bertemu dan saya coba bertanya kepada dia tentang bagaimana dengan agama atau keyakinan kami masing-masing. Dari raut wajahnya, saya melihat dia sedikit kaget dan gugup, seakan agama adalah pengganggu hubungan kami.
Pembicaraan kami saat itu hanya seputar agama, dan kami masing-masing coba memberi pemahaman tentang agama masing-masing. Dari pembicaraan itu, rasa diantara kami yang sudah dijaga setahun dengan rapih dan tenang, kini tergoyang bagai badai yang sedang menghantam, seakan agama adalah angin taufan dan badai yang siap menghempaskan kami pada pilihan masing-masing. Aku sedikit merasa terpukul ketika dia memberi jawaban dan meminta saya untuk ikut agamanya. Saya seakan dihempas badai kencang, ketika membayangkan kehidupan keluarga saya, apalagi ayah dan ibu saya yang adalah seorang agama katolik sejati, yang siang malam sungguh sangat aktif dalam kegiatan gereja. Jawaban dari dia membuat saya seakan dibuang dari kehidupan keluargaku yang sungguh memelihara kekatolikan dalam keluarga. Aku berusaha diam dan menenangkan bathin dan coba membuat raut wajahku sedemikian supaya jangan terbaca olehnya bahwa saya sedang dalam pergolakan bathin tentang agama. Pembicaraan kami saat itu bukan lagi tentang diri, bukan tentang rasa dan bukan tentang hidup dikemudian hari tetapi tentang agama. Denyutan jantungku saat itu terasa berdetak tak beraturan, air mata yang tetumpuk ingin kualirkan dipelupuk pipiku tapi aku takut pada dia yang sungguh menyayangiku, aku takut dia mengetahui bahwa aku sedang dilema. Tak terasa hari sudah sore dan saya harus kembali kerumah, kembali kerutinitas hidupku bersama keluarga. Aku kembali dengan membawa setumpuk rasa tanpa solusi, aku kembali dengan sejuta pikiran tanpa kepastian. Aku harus kembali... itulah kalimat yang tidak terucap tapi terdengar olehku saat itu. Akhirnya kami berpamitan disore itu dan aku berjalan dalam sebuah beban rasa yang tersimpan rapih dalam nurani. Sejak itu aku terbawa pikiran dan beban rasa disetiap hari dalam segala waktu, aku seakan terpojok dan terhamba oleh rasa yang kujalani selama ini bersama dia ketika aku harus berada pada pilihan antara aku bersama dia dan aku dengan agamaku. Hari-hari hidupku sejak itu terhanyut oleh rasa dan pikiranku sendiri, semangat yang telah ada dan kurasakan selama satu tahun bersama dia seakan sirna ditelan senja menuju kegelapan nurani terdalam. Dengan rasa dan pikiran ini membuat semangat komunikasi dan chatingan-chatingan hangat bersama dia perlahan mulai menjarak, sapaan-sapaan manis yang setiap hari kami lakukan kini perlahan mulai menghilang dari perhatian. Pingin aku jalani terus hubungan asmara yang setahun kami rajut, tapi terbentur oleh imanku yang sekian lama dan bertahun-tahun aku menjaga dan memeliharanya. Kadang aku mengasingkan diri dari rutinitas harian kepada DIA dalam doa keluhan, aku harus berada dihadapan DIA untuk mencurahkan semuanya demi mendapatkan secerca cahaya untuk menerangi hati dan pikiran menuju ketenangan dan kedamaian bathin. Aku harus berdoa memohon dan meminta secara paksa pada DIA sang keagungan demi damai dan tenangnya diriku. Akhirnya dengan sisa tenaga dalam diri, ku kumpulkan semuanya dan dengan sebuah keberanian yang masih gemetaran, aku harus memilih dan memutuskan secara dewasa dan matang. Aku harus keluar dari penjara bathin yang mengurung dan mengekang yang membuatku tak bersemangat. Ditengah malam pada pukul 00.00 aku berlutut didepan Sang pengenal segalanya, kuluapkan bongkahan rasa yang tertumpuk sekian minggu. Sambil meneteskan air mata, aku mengucapkan semua rasa dengan mulut bergemetar dan hati yang hancur lebur, tapi kubiarkan semuanya demi sebuah damai dan tenangnya bathin. Aku sampai pada keputusan, kutinggalkan dia demi agama, kurelakan dia pergi bersama dengan yang lain, demi aku bersama Sang Penguasa jagat, Sang asal kehidupan yang senantiasa memelihara diriku dan yang telah ku jaga dan ku pelihara bertahun-tahun. Dihadapan Sang Ilahi itulah aku memutuskan untuk tinggalkan dia. Sejak saat itu aku kembali kerunitasku sebagai seorang guru, menyibukan diri dengan berbagai kegiatan sekolah hanya sekedar mengisi hari-hari hidupku dan pingin lupakan dia. Komunikasi diantara kami perlahan tapi berjalan dalam kepastian untuk tidak saling menghubungi satu sama lain. Inilah keputusanku dan aku harus berjiwa besar dan ketegasan hati untuk menerima dan menjalaninya walau hati dalam kejujurannya mengatakan berat dan terasa sakit. Aku ingin kembali pada agamaku, pada orang tuaku yang membimbing dan membentuk aku dilorong katolik sejak kecil hingga dewasa. Aku tinggalkan dia demi imanku, demi agamaku, demi keluargaku. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar