TINGGALKAN KEMAPANAN DAN KEMEWAHAN
Cerita ini adalah sebuah kisah nyata, yang diambil dari beberapa sumber di media sosial, baik Facebook, channel Youtube, instagram maupun tulisan di Geogle. Cerita tentang anak seorang kaya yang meninggalkan segala kemapanan dan kemewahan (harta) dalam kehidupan keluarga dan pergi menjalani kehidupan sebagai seorang biarawati (suster) pada sebuah konggregasi hidup bhakti, warisan Bunda Teresa dari Kalkuta. Dia adalah Suster Lucy Agnes, yang terlahir dengan nama Donna Dewiyanti Darmoko.
Dia adalah putri tunggal dari pasangan pemilik ayam bulungan yakni Paul dan Cecilia Darnoko. Mama dari Suster Lucy agnes adalah saudara sepupu dari Robert Budi Darmoko, seorang pemilik salah satu perusahan rokok terbesar yakni Djarum. Dengan latar belakang kehidupan keluarga seperti ini maka sejak kecil Donna Dewiyanti Darmoko hidup dengan gaya orang kaya, semua serba ada, mewah dan tak kenal yang namanya susah dan sulit, jauh dari rutinitas kehidupan yang kumul, jorok, bau, dan kotor.
Perjalanan waktu dalam menapaki jejak kehidupan ternyata ada daya tarik yang membuat Donna Dewiyanti Darmoko membelokan haluan menuju lintasan yang sangat berbeda dan bergerak dalam lingkaran 180 derajat. Dia memandang satu dunia yang tidak pernah dilihat dan tidak pernah ada ketika tapak-tapak jejak hidup yang membingkainya dalam sebuah ziarah, karena bagi dia kemewahan dan kemapanan adalah warna yang telah lama ia nikmati dan ia jalani. Hingga pada suatu waktu nuraninya bergetar dan mulutnya berkata, saya harus memilih jalan lain, jalan untuk bertemu dengan Tuhan secara lebih dekat lewat kasih dan perhatian pada sesama yang menderita. Keputusan ini berawal dari sebuah perjalanan liburan ke Hongkong. Situasi dan keadaan hidup sesama yang menderita ketika ia melihatnya di Hongkong, menggetarkan seluruh jiwa raganya untuk memutuskan menjadi seorang biarawati. Menurut cerita Sr. Lucy agnes yang dimuat dalam media sosial, bahwa ketika ia berlibur ke Hongkong, ada satu pemandangan yang membuat dia harus menghindar tapi serentak juga menarik dirinya untuk kembali berhadapan dengan pemandangan tersebut, yakni ia melihat banyak tunawisma yang tidur dijalan. Para tunawisma ini bukan hanya karena tidak meiliki rumah atau tempat tinggal tetapi kondisi (tubuh) mereka sangat menyedihkan. Ketika melihat para tunawisma tersebut, Sr. Lucy Agnes langsung mual dan hampir muntah, karena itu ia berusaha menghindar atau menjauh dari mereka. Namun ketika hendak menjauhkan diri dari para tunawisma, semacam ada satu magnet yang menarik dirinya untuk kembali. Dan dia pun kembali mendekat dengan para tunawisma, disitulah nuraninya tergerak dan memaksa dia untuk berbuat sesuatu. Setelah selesai liburan di Hongkong, dia kembali dan menceritakan kepada kedua orang tuanya tentang semua yang ia lihat dan ia alami ketika berlibur kesana. Dari situlah Sr. Lucy Agnes lebih sering membantu sesama yang menderita dan yang berkekurangan. Sambil menempuh pendidikan magister (S2) di salah satu universitas di Chicago, Amerika Serikat, dia banyak memberi perhatian pada orang-orang yang susah. Inilah saatnya dia berani meninggalkan situasi hidup rumah yang penuh kemewahan, bersih dan jauh dari kekotoran, menuju jalur kumuh, kotor dan bau.
Ia merelakan dirinya mengalami situasi ini selama menjalani pendidikan magisternya. Setelah menyelesaika S2 ia memutuskan untuk bergabung dengan para suster warisan Bunda Teresa. Dia menyampaikan niat dan keputusan ini kepada orang tua, tapi jawaban orang tua menolaknya. Hari-hari dia lalui dengan sebuah pergumulan bathin, sering dia bawakan dalam kesunyian dan keheningan doanya, berharap niat dan keputusan ini diterima oleh orang tua. Pada suatu waktu ia memberanikan diri menyampaikan niatnya sekali lagi pada orang tua, dan kali ini ia mendapatkan jawaban seakan sinar terang itu datang mendekat dan menyinari ia untuk menyusuri lorong-lorong sunyi dalam biara. Kedua orang tuanya menyetujui niat dan keputusannya, dan ia bergabung dalam konggregasi warisan Bunda Teresa, dengan meneladani apa yang pernah dan telah dilakukan oleh Bunda Teresa. Kini namanya yang sejak semula Donna Dewiyanti Darmoko menjadi Sr. Lucy Agnes. Dengan bergabung dalam konggregasi ini menjadi bukti bahwa Sr. Lucy meninggalkan kemewahan dan kemapanan hidup dalam dunia orang kaya menuju pengosongan diri secara total dan mempersembahkan yang terbaik buat Tuhan dan sesama. Perjalanan panggilannya menjadi tanda pelepasan akan segala kekayaan duniawi dan mencari kekayaan Rohani dihadapan Tuhan dan mempersembahkan kekayaan kasihnya pada sesama. Sr. Lucy Agnes pernah menjabat sebagai sekretaris konggregasi, sebuah jabatan dalam hidup membiara, yang membuat dia mengatur banyak hal, baik tentang kehidupan bersama dalam komunitas maupun kehidupan bersama sesama diluar komunitas. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar