BULUH YANG PATAH & SUMBU YANG PUDAR NYALANYA
Yesaya 42: 3
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan.
Kalimat diatas menghadirkan gambaran sikap Allah yang sangat peduli dan penuh kasih pada manusia, yang senantiasa berharap dan bermohon pada-Nya. Buluh yang patah terkulai dan sumbu yang pudar nyalanya melambangkan atau menggambarkan keadaan manusia yang rapuh, lemah, tak berdaya dan bahkan berada dalam ambang keputusasaan. Dalam hidup, tidak sedikit orang yang merasa seperti buluh yang terkulai--tertekan oleh masalah, kegagalan, luka bathin dan dosa yang selalu saja terulang dalam hidup, yang membuat dirinya berada dalam ketakberdayaan atau keputuasaan. Ada pula yang merasa hidupnya seperti sumbu yang pudar nyalanya; kehidupan imannya seperti sumbu yang pudar nyalanya; pekerjaan dan kehidupan keluarga seperti sumbu yang pudar nyalanya dan pengalaman pudar lainnya yang senantiasa mengiringi atau menghiasi perjalanan hidup. Walau ada nyala kecil yang masih menyinari ziarah kehidupan, tetapi begitu redup dan bahkan hampir padam, seakan tak kelihatan nyalanya.
Pengalaman hidup manusia seperti ini membuat setiap orang seakan protes pada keberadaan Allah dalam hidupnya, seakan Allah begitu jauh dan tidak peduli akan suram atau pudarnya irama hidup, seakan Allah tidak terlibat dalam pengalaman hidup manusia yang patah terkulai disetiap detik dan jejak hidup. Kecenderungan sikap manusia seperti ini muncul ketika pengalaman hidup sudah berada pada rasa yang patah terkulai dan pengalaman yang pudar nyalanya. Walau demikian, ketika direfleksikan secara lebih mendalam tentang arti kalimat "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan", maka kita sesungguhnya memahami siapa Allah dan bagaimana Allah bertindak dalam ritme hidup.manusia. Kalimat dalam Yes. 42:3 menghadirkan gambaran Allah yang sungguh-sungguh terlibat dalam hiduo manusia; gambaran Allah yang tidak membiarkan manusia berjalan sendiri dalam menenun kehidupannya; Allah yang penuh kasih dan amat memahami hidup manusia.
Dunia seringkali bersikap keras; yang lemah dan tak berdaya disingkirkan, yang gagal dianggap tidak berguna dan diasingkan, yang tidak lagi "bersinar" dilupakan. Tidaklah demikian sikap Allah akan nasib hidup manusia, Allah bersikap terbalik dari kenyataan yang terjadi dalam dunia ini. Ia tidak memutuskan buluh yang sudah patah terkulai dan tidak memadamkan nyala yang pudar sinarnya; Ia meluruskan dan menegakkan kembali buluh yang patah terkulai dan menghidupkan kembali sumbu yang pudar nyalanya. Ia menenun dengan penuh kasih dan kelembutan akan nasib hidup manusia yang patah terkulai dan pudar nyalanya. Ini menunjukan bahwa Allah menghargai kehidupan, sekecil apapun harapan yang tersisa didalamnya. Allah bekerja dengan tangan yang penuh kasih bukan dengan paksaan atau kekerasan. Ia tidak menghukum.manusia yang terluka tetapi memulihkan dan menyembuhkan, Ia tidak membiarkan manusia dalam teriakan derita tetapi Ia mendengar dan menolong, Ia tidak menjauhkan diri dari manusia yang berdosa tetapi Ia memanggil dan memeluk serta mengampuni dengan belas kasih, ia menopang yang hampir jatuh dan menguatkan yang hampir menyerah.
Sikap Allah ini hendaknya menjadi ispirasi terindah bagi setiap kita dalam berelasi dan memandang sesama dalam hidup ini. Kiya dipanggil untuk tidak mudah dan secepatnya menghakimi hidup sesama, tidak mudah dan secepatnya mematahkan nasib hidup sesama, tidak mudah dan secepatnya memadamkan harapan sesama yang sedang berjuang, tidak mudah mematikan semangat sesama yang ingin berjuang. Tugas kita adalah memberi kekuatan dan semangat bagi sesama yang patah terkulai dan redup hidup. Kita tidak membiarkan yang patah terkulai itu putus dan nyala yang redup itu padam. Kita meluruskan dan menguatkan yang patah terkulai dan memberi nyala bagi yang sedang redup dalam hidup, kita memberi penghiburan, kekuatan, motivasi dan semangat. Tugas ini menghantar kita untuk semakin memahami dan mengerti bahwa Allah telah lebih dahulu melakukannya sehingga kita pun demikian. Selama masih ada sedikit nyala, Allah bekerja memberi terang yang besar, selama masih adalah buluh yang meski patah terkulai belum hancur sepenuhnya, Allah tetap memelihara dan menguatkan. Yang patah terkulai, Allah tidak akan pernah memutuskannya dan yang redup nyalanya, Allah tidak akan pernah memadamkan. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar