KU HARGAI KEPUTUSANNYA

Saya masih duduk dibangku Sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), pada kelas dua. Entah apa dan kenapa, tiba-tiba timbul rasa ketertarikan dan rasa suka pada lawan jenis. Saya sendiri tidak memahami dan tidak mengerti tentang rasa ini dan saya bergulat sendiri dalam rasa ini. Pergulatan rasa ini muncul lantaran ada rasa suka dan tertarik pada seorang cewek, adik kelas. 
Sejak kehadirannya disekolah itu, saya semacam terbawa dalam arus rasa yang begitu kuat, hari-hari disekolah saya berusaha walau sedetik untuk bertemu dengan dia, sekedar cerita-cerita dan supaya bisa sedikit mengobati gulatan rasa yang sedang mengamuk dan bergejolak dalam diriku. Karena rasa ini begitu kuat, maka setiap hari kesekolah, saya membawa permen sebagai alat untuk bisa bertemu dan bercerita dengan dia. Dalam tas sekolah saya berusaha sisipkan beberapa permen, sehingga di waktu jam istirahat, saya pergi bertemu dan membagii permen dan cerita-cerita bersama dia dan teman-teman hanya sekedar mengisi jam istirahat. Hari demi hari, rasa dalam diriku semakin kuat, dan saya harus menyampaikan kepadanya tentang semua rasa yang ada dalam diri. Malam itu hati kecil memaksa saya untuk menulis sepucuk surat tentang rasa, boleh dibilang surat cinta untuk dia. Saya menulisnya berulang-ulang karena baru pertama kali saya menulis surat cinta ini. Hampir 10 lembar HVS saya pake untuk menulis, akhirnya berhasil juga menuangkan semua rasa itu dalam tulisan malam itu. Saya melipatnya dalam bentuk yang begitu bagus sebagai tanda ungkapan rasa yang sedang bergejolak dalam diri ini. Pagi hari setelah bangun dari tidur, saya membereskan segala sesuatu, seperti biasanya aktivitas dirumah sebelum ke sekolah.  Selesai berpakaian saya menuju sekolah, dengan sangat berharap saya harus bertemu si dia dan juga berharap suratku diterima dan dibaca olehnya. Pagi itu saya mengikuti pelajaran seperti biasanya, namun pikiran dan seluruh diri seakan tidak hadir dalam ruangan itu untuk fokus mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh guru. Saya seakan sedang berlayar dengan samudera rasa menuju pada dia yang selama ini saya sukai. Konsentrasi pada pelajaran pagi itu tidak ada, berharap bel bunyi tanda istirahat cepat terdengar, demi bertemu dengan dia dihari itu. Akhirnya saat yang saya nanti pun tiba, bunyi bel tanda istirahat terdengar, membuat senang diri ini untuk memberitahukan kepadanya tentang sebuah ungkapan rasa yang telah kugoreskan dalam tulisan malam tadi. Keluar dri ruangan kelas, saya menuju ruangan kelasnya, ternyata dia sedang duduk sendiri dalam ruangan, dan saya memberanikan diri untuk panggil dia keluar dari ruangan dan menuju sebuah pohon mangga yang berada dihalaman sekolah. Seperti biasanya saya mengeluarkan permen dari saku baju dan kasih dia sambil bercerita seperti biasanya. Melihat tidak ada teman-teman yang datang mendekat, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengungkap semua rasa dan memberi sepucuk surat goresan pena semalam. Dibawah pohon itulah saya memberanikan diri mengungkapkan semua rasa dalam diri ini dihadapannya sambil menyerahkan sepucuk surat yang saya tuliskan malam itu. Dari raut wajahnya saya melihat ada kebingungan dan keheranan akan apa yang saya sampaikan, tetapi ketika saya menyodorkan surat itu, ia pun menerima dengan senyum manis yang begitu indah tergambar diwajahnya, membuat hatiku semakin luluh dan tak berdaya dihadapannya. Waktu untuk kami dua pun dibatasi karena lonceng tanda selesai jam istrahat berdentang dan kami berpisah menuju ruang kelas masing-masing. Hatiku kini legah dan sedikit terobat dari bathin yang bergulat bebetapa bulan yang telah berlalu. Ternyata setelah menerima dan membaca surat cinta yang saya berikan padanya, dua hari kemudian dia pun membalasnya. Saya terima surat darinya dan dengan hati dag dig dug membuka dan membacanya. Ternyata dia menerima cintaku dan kami pun menjalani hubungan atau pacaran sejak saat itu. Seperti biasanya pacaran selalu ada cerita dan kisah yang menghiasi perjalanan pacaran kami. Cerita dan kisah dalam kebersamaan kami dua terus kami alami sampai saya tamat SLTA dan melanjutkan pendidikan pada perguruan tinggi. 
Ketika saya melanjutkan pendidikan di perguruan, kami berpisah jarak, tetapi rasa rindu dan ungkapan kedekatan hubungan kami diungkapkan lewat telepon dan inbox baik lewat whatsapp maupun lewat FB. 
Pada suatu waktu ketika saya baru saja pulang dari kampus dan tiba di kos, ada pesan masik dari dia. Dia meminta waktu untuk berbicara dengan saya lewat telepon. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa dia harus memilih jalan kehidupan menuju hidup membiara. Ditelepon itu dia menceritakan semua kemaunya, saya mendengar dengan rasa yang bercampur raduk. Saya berusaha menolak kemaunya tetapi saya berpikir bahwa cinta kami tidak boleh membatasi dan membunuh masa depan. Akhirnya saya pun mengiyakan apa yang menjadi kemauanya. Ku relakan dia harus menjalani kehidupannya dalam pencarian sebuah masa depan. Dengan sedih dan hati yang hancur lantaran cinta akan berakhir, saya memberi jawaban kepadanya dengan kata-kata " aku masih mencintai dan menyayangimu, tapi saya tidak boleh membatasi pencarian masa depanmu, maka saya relakan kamu pergi untuk sebuah masa depan". Sejak saat itu komunikasi antara kami hilang dan saya pun harus menjalani masa kuliah walau hati ini bagai diterpa gelombang dalam samudera yang mengamuk dahsyat. Hati semacam kapal ditengah lautan yang sedang menantang dan bertarung dengan gelombang yang mengganas, hati semacam sedang berjalan dalam kerikil yang menghantam sepanjang jalan kehidupan. Dia jalan demi masa depan karena itu saya harus menghargai dan menghormatinya. Saya tidak harus terbawa dalam arus egoisme rasa, karena masa depan tidak boleh dibunuh dengan rasa. Hampir dua tahun tidak ada komunikasi antara kami, hingga pada suatu waktu saya mendapat berita dari teman-temannya bahwa ada acara syukuran kaul pertamanya dikampung. Katanya dia sudah diterima dalam konggregasinya dan sudah menerima kaul pertama, sehingga orang tuanya merencanalan untuk acara syukuran di kampung. Saya harus pulang ke kampung dan harus mengikuti acaranya. Moment syukuran itu pun tiba dan kami bertemu kembali sesudah dua tahun berlalu. Setelah selesai perayaan Ekaristi kudus, giliran undangan memberi salam selamat buat dia, dan saya pun mengikuti barisan itu, bertemu dan mengucapkan selamat dan proficiat buat dia. Saya tersenyup bangga melihat dia berpakaian suster yang begitu indah, ditambah wajahnya yang begitu indah, polos dan luguh. Betapa indahnya penampilannya malam itu, saya hanya kagum dan mengakui keputusannya yang begitu mulia. Dia yang ku cinta dan ku sayang, dia yang kuhargai keputusannya, pergi dengan rasa cinta dan sayang pada Tuhan yang memanggil dijalan panggilan-Nya. Saya pun kembali dengan jalan hidupku, jalan yang kupilih untuk sebuah masa depan. Saya hanya berdoa, semoga Tuhan mendekap dan merangkul kuat dirinya dalam panggilan hidup yang telah ia jalani hingga sampai pada keabadian. (Alfons H).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

MISA DI KAPELA MARITAING

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN