KUTANGGALKAN JUBAH
Setelah menamatkan pendidikan pada sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), saya melanjutkan pendidikan lanjutan tingkat atas (SLTA) pada sebuah sekolah dibawah asuhan para suster. Disekolah ini sebagian besar tenaga pendidik adalah para suster, hanya beberapa awam yang mengajar disekolah tersebut. Keseharian disekolah saya lebih banyak bergaul dekat dengan para suster dan sering berdiskusi tentang kehidupan membiara, baik biarawan maupun biarawati. Ada banyak cerita dari para suster tentang perjalanan panggilan dan kehidupan membiara, baik bagi seorang pastor (imam), suster maupun bruder. Dari cerita-cerita inilah yang membuat saya tertarik untuk masuk biara, khususnya jadi seorang bruder.
Setelah tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah ini, saya melamar ke salah satu kongregasi para bruder. Saya diterima dan menjalani pembinaan dan pendidikan dalam kongregasi itu, mengikuti pola hidup harian dalam biara dengan berbagai kegiatan yang sudah dikemas dalam seluruh aturan yang berlaku bagi semua penghuni rumah. Hari-hari pertama dalam satu minggu, terasa agak berat dan sangat kaku untuk saya belajar disiplin waktu seturut dan seirama dengan teman-teman bruder dalam komunitas tersebut, selain itu rasa rindu pada kedua orang tua dan keluarga pun sangat kuat menggelora dalam bathin yang berusaha untuk tenang. Semua perasaan ini perlahan saya coba untuk terima, menikmati dan menjalaninya, karena hanya satu niat kuat yang sedang ada dalam diri adalah ingin hidup jadi seorang bruder, demi pelayanan pada Tuhan dan umat-Nya. Masa awal pembinaan ditahun aspiran (salah satu tahapan awal pembinaan dalam kongregasi sebelum resmi jadi anggota kongregasi) saya lewati dalam kekuatan iman yang bersumber dari DIA yang memanggilku. Di tahun ini saya berusaha mengenal lebih baik tentang diri saya dan keputusan saya untuk menjalani panggilan hidup khusus ini. Setelah menyelesaikan tahapan awal dengan seluruh proses pendampingan dan pembinaan, saya diterima ke tingkat postulan (tahapan lanjutan dari sebuah perjalanan panggilan hidup membiara) dan dari hasil penilaian dan pertimbangan para dewan kongregasi, saya masuk ketingkat novis (sebuah proses keberlanjutan pembinaan dalam kongregasi) untuk masuk penuh sebagai seorang anggota kongregasi, yang berpuncak pada penerimaan kaul pertama dalam hidup membiara). Setelah menerima kaul pertama, saya mendapat tugas perutusan ( menjalankan misi kongregasi) pada sebuah komunitas di salah satu paroki kota.
Di komunitas ini pimpinan komunitas memberi tugas pada saya membantu pastor rekan di paroki itu untuk pendampingan orang Muda, selain tugas-tugas utama dalam komunitas. Sejak saat itu, saya selalu hadir dan melibatkan diri dalam kegiatan orang muda. Apapun kegiatan orang muda di paroki itu, saya dan pastor rekan selalu bersama-sama dengan mereka, ada saat-saat tertentu ketika pastor rekan berhalangan atau mempercayakan tugas dan tanggungjawab kepada saya, maka semua kegiatan itu dibawah bimibingan dan pendampingan saya. Karena itu semua konsultasi atau komunikasi tentang kegiatan tersebut, selalu melalui saya. Awal kebersamaan saya dengan orang muda berjalan baik-baik saja, semua urusan hanya punya tujuan demi kelancaran kegiatan orang muda. Sebagai seorang bruder dan juga sebagai pendamping, saya berusaha memberi yang terbaik buat orang muda karena ini juga merupakan salah satu misi dalam kongregasi kami. Saya berusaha membangun hubungan atau relasi yang baik dengan semua teman-teman orang muda, tanpa membedakan satu dengan yang lain, berusaha memperlakukan mereka semua sama dan tidak ada yang istimewa. Seiring perjalanan waktu, dengan tugas dan tanggungjawab yang harus saya jalani baik dalam komunitas maupun dalam kegiatan bersama dengan orang muda, saya mengalami suasana bathin yang terasa begitu lemah dan rapuh dihadapan kemanusiaan diriku. Mungkin terlena dan terbawa arus kebersamaan dengan orang muda yang begitu dekat, hingga saya jatuh dalam sebuah rasa. Kedekatan pribadi saya dengan seorang wanita, membuat saya terbawa arus rasa yang sangat dalam dan sulit saya kendalikan dengan logika. Awal perkenalan dan hubungan kami biasa saja, sering bersama dan saling curhat tentang kegiatan orang muda. Kedekatan lewat konsultasi dan juga saling menyapa dalam kegiatan itulah yang membuat rasa tumbuh dari kedalaman nurani yang kian kuat melekat. Akhirnya dari hubungan atau relasi yang biasa-biasa saja menjadi sebuah hubungan yang privat dan sangat membekas dalam diri. Saya larut dalam kedekatan dengan dia, hingga akhirnya dalam benak saya memutuskan untuk meninggalkan panggilan hidup membiara dan menjalani hidup bersama dia (wanita). Saya menyampaikan semua ini ke pimpinan komunitas dan pimpinan memberi waktu untuk saya merefleksikan semua ini. Dalam refleksi pribadi saya sampai pada keputusan untuk akhiri hidup sebagai seorang bruder. Keputusan ini saya sampaikan ke pimpinan dan pimpinan mengiyakannya. Saya menanggalkan jubah dan pergi menjalani hidup bersama dia. Sebuah perjalanan hidup yang menghendaki saya harus memulai dari awal tentang kehidupab dunia diluar rumah biara. (Alfons H).
Komentar
Posting Komentar