MISA BERSAMA ORANG "NAGI"
Pada sabtu 24 january 2026, sore jam 15.30, saya bersama dua teman awam dari paroki menuju tempat acara misa syukur bersama keluarga besar orang Larantuka yang tinggal di Kabupaten Alor. Misa dirumah Bapak Jhon Bethan dan misa ini di pimpin oleh Romo Manto. Hadir pada misa syukur ini adalah semua orang Larantuka (nagi) baik yang berasal dari Larantuka kota maupun larantuka diluar kota, juga para pengurus paguyuban dari beberapa etnis dan asal daerah yang tinggal di Kabupaten Alor. Satu keunikan dalam acara syukuran keluarga besar larantuka ini adalah mereka yang dari agama non katolik juga ikut hadir (agama muslim dan kristen protestan). Inilah tali kasih, persaudaraan, kekeluargaan, kekerabatan dan cinta, yang terajut dalam satu ikatan bathin sebagai sesama Larantuka, maka misa syukur ini adalah sebuah gambaran arti penting dan sesungguhnya dari sebuah iman yang hidup dan bermakna. Perayaan ekaristi ini menjadi sebuah ungkapan syukur kepada Tuhan atas bimbingan, perlindungan dan penyertaan-Nya dalam kehidupan orang Larantuka yang merantau dan menetap di kabupaten Alor.
MAKNA DI BALIK MISA SYUKUR
(Keluarga Besar Larantuka di Alor)
Misa syukur ini tidak hanya menjadi peristiwa atau momentum rohani, tetapi juga momentum mempererat tali persaudaraan antar sesama orang Larantuka lintas usia dan latar belakang. Di tengah kesibukan masing-masing, perayaan ini menghadirkan ruang untuk saling berjumpa, berbagi cerita dan saling meneguhkan rasa sebagai satu keluarga besar dalam iman dan budaya yang satu dan sama. Melalui misa syukur ini juga, orang Larantuka yang tinggal di Kabupaten Alor meneguhkan komitmen untuk terus hidup dalam semangat kasih, persaudaraan dan pelayanan. Harapannya, kebersamaan yang telah terbentuk dan terbangun tidak berhenti pada perayaan semata tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan bersama, baik di lingkungan gereja maupun dalam relasi sosial yang lebih luas. Dengan demikian kehidupan orang Larantuka di Kabupaten Alor dapat menjadi berkat bagi sesama dan turut membangun kehidupan yang rukun, harmonis dan penuh toleransi. Kebersamaan yang terjalin dalam misa syukur ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan persatuan yang diwariskan dalam budaya Larantuka. Perbedaan latar belakang, profesi dan generasi dilebur dalam satu perayaan iman yang sama. Nuansa kekerabatan dan kekeluargaan terasa kental melalui sapaan hangat, doa bersama serta semangat saling menopang sebagai satu komunitas perantau yang tetap menjaga identitas dan tradisi leluhur ditanah rantau. Dalam suasana yang khidmat dan penuh kekeluargaan, doa-doa dipanjatkan bagi kesejahteraan keluarga besar, persatuan komunitas serta kedamaian hidup bagi semua orang Larantuka yang tinggal di Kabupaten Alor. Nilai-nilai khas orang Larantuka seperti kebersamaan, rasa hormat dan kesetiaan dalam iman katolik terasa kuat mewarnai seluruh rangkaian perayaan saat itu.
Setelah misa, kebersamaan dilanjutkan dengan ramah tama sederhana sebagai pengikat tali persatuan, canda tawa sebagai pelengkap sempurna sapaan kasih, cerita kisah sebagai uangkapan perjalanan hidup bersama ditanah rantau dan menari dolo-dolo bersama sebagai penghubung dan pengikat rasa satu keluarga besar, satu asal dan budaya, satu kasih persaudaraan dan satu dalam cinta. Semuanya ini sebagai simbol atau tanda ungkapan ikatan persatuan dan kesatuan orang Larantuka, walau tinggal di tanah rantau. Semoga dengan misa syukur bersama ini, kita semua orang Larantuka yang ditanah rantau dipanggil untuk menjadi saksi tentang Iman, saksi tentang budaya yang diwariskan leluhur dan saksi tentang semangat persaudaraan dan cinta kasih. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar