AKU TERPAKSA PERGI

Sebuah berita viral baik level nasional maupun level lokal yang tersebar dalam berbagai platform media sosial  diawal bulan february 2026 ini adalah seorang bocah berusia 10 tahun bunuh diri (gantung diri). Bocah ini sedang menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada kelas 4. Menurut beberapa sumber dalam media sosial itu, diceritakan bahwa niat bocah bunuh diri ini berawal dari kekecewaan atau rasa tidak puas dan tidak senang terhadap mamanya ketika Ia meminta uang untuk membeli buku tetapi mamanya menolak dan tidak memberi uang. Diceritakan bahwa uang yang diminta hanya Rp. 10.000. Sebuah nilai uang yang sangat kecil tapi tidak bisa dikabulkan oleh mamanya.  Akhirnya sebuah tindakan dan keputusan seorang anak kecil yang sungguh prihatin dan sangat fatal yakni bunuh diri  (gantung diri). Dalam beberapa sumber di media sosial, diketahui juga bahwa sebelum gantung diri, si bocah ini menulis sepucuk surat untuk mamanya; surat berisi uangkapan terdalam dari hati yang kecewa, dari rasa yang sesak dan dari nurani yang tersakiti. Dia terpaksa pergi untuk selamanya dengan membawa hati yang terluka dan tersayat oleh sebuah penolakan atas permintaan, dan meninggalkan pesan dan bekas rasa lewat sepucuk surat yg ditulis untuk mamanya. Entah apa yang ada dalam pikiran si bocah ini hingga bunuh diri, tapi satu kepastian bahwa ia sungguh memahami kondisi dan keadaan hidup dalam rumah, mungkin ia tidak mau menjadi beban bagi mamanya dan mungkin juga ia merasa sebagai anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari mamanya. Ada banyak spekulasi pikiran atau argumentasi yang muncul sesudah ada peristiwa naas ini terjadi. Si bocah itu meninggalkan sebuah pesan buat mamanya lewat sepucuk surat yang ia tulis dari nurani yang sedang sakit:
     Kertas ti'i mama Reti
     Mama galo zee, Mama molo ja'o golo mata
     Mae rita e mama, mama ja'o golo mata,
     Mae woe rita e gae ngao e
     Molo mana
Terjemahan:
Kertas untuk mama Reti
Mama, saya pergi dulu, mama relakan
saya pergi. Jangan menangis ya mama. Mama saya pergi, tidak perlu menangis dan mencari saya.
Selamat tinggal mama

Baru berusia 10 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar, belum banyak mengerti dan memahami arti sebuah ziarah kehidupan di dunia ini, belum sepenuhnya mengerti arti perggulatan bathin yang mendalam tentang kondisi dan keadaan hidup sebenarnya, belum paham betul arti kerasnya hidup dalam bingkai susah dan senang, belum tau apa itu miskin dan kaya. Tetapi nalar dan pikirannya buntu, hatinya tersayat dan luka, air matanya mengalir deras dari sebuah penolakan atas permintaan uang hanya Rp. 10.000 demi sebuah buku tulis yang harus ia gunakan atau pakai di sekolah. Apakah ini yang namanya kondisi hidup susah dan sulit atau keadaan miskin (kekurangan uang)? Apakah ini namanya ketidakpedulian orang tua terhadap kebutuhan dan masa depan anak? Apakah ini kekurangan perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak? Ada banyak faktor yang mempengaruhi kisah naas si bocah ini, yang mengundang kita untuk menyelami dan mengerti lebih dalam keadaan hidup sesama yang lain.
 Menghentak dan menggetarkan nurani dan pikiran kita untuk lebih jauh merasakan nasib hidup sesama dan berpikir lebih dalam tentang keadaan atau kondisi hidup sesama, terutama mereka yang berkekurangan dan bahkan kurang mendapat perhatian. Kita semua baik dalam lingkup mereka yang mengatur sistim pemerintahan dan mereka yang mengatur ritme hidup rohani diajak untuk peka dan peduli akan nasib sesama. Kita tidak hanya berjalan dalam manajemen siatim birokrasi yang bagus dan dalam tatanan hidup rohani yang baik, tetapi lebih dari itu kita diajak untuk menunjukan cara atau praktek hidup praksis yang peduli akan nasib sesama dan belajar menujukan kasih sayang nyata yang hidup ditengah-tengah kebersamaan. Kita dituntut untuk bagaimana peduli, ikut merasakan, empati-simpati akan nasib orang lain. Peristiwa naas si Bocah mencerminkan gagalnya pranata sistim sosial, gagalnya pranata budaya dan gagalnya pranata agama dalam kebersamaan hidup. Tindakan mama dari si bocah yang tidak memberi uang hanya Rp. 10.000 untuk membeli buku bukan soal kecilnya angka tetapi bagaimana Rp. 10.000 itu didapat dan digunakan dalam kehidupan rumah tangga. Persoalan Rp. 10.000 bagi masyarakat kecil bukan soal angka tetapi soal ada dan tidaknya uang itu. Mungkin saat si bocah ini meminta uang, mamanya menolak permintaan bukan juga berarti tidak peduli, tetapi juga ketiadaan apa-apanya. Mari belajar berbagi dan belajar memberi perhatian dan pertolongan bagi sesama, hanya di dalam cara inilah kita menghidupkan spiritualitas cinta kasih dan semangat pelayanan. (Alfons H). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

MISA DI KAPELA MARITAING

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN