DARI PROTESTAN MASUK KATOLIK
Ini adalah sebuah cerita tetapi merupakan kisah nyata dan merupakan sebuah perjalanan kehidupan iman yang dijalani atau dialami oleh seorang guru katekis katolik yang berasal dari keluarga Kristen protestan. Bapaknya beragama kristen protestan dan ibunya beragama katolik. Sejak menikah ibunya pindah agama mengikuti agama bapak. Keluarga ini dikaruniai tiga orang anak, dua orang cewek dan satu orang cowok, anak sulung adalah cowok. Perjalanan waktu membuat kehidupan keluarga ini tidak harmonis, mengakibatkan pisah ranjang antara suami dan istri. Si istri hidup bersama ketiga anaknya sedangkan suami tinggal di kos. Ketidakharmonisan ini disebabkan oleh pihak ketiga, dalam hal ini si suami kedapatan selingkuh dengan perempuan lain, sejak saat itulah kehidupan keluarga ini berantakan dan tidak harmonis. Perkelahian dan percecokan antara suami istri selalu saja terjadi walau persoalan atau masalah hanya sepele. Dan suami memilih minggat dari rumah dan tinggal di kos. Ketiga anak tinggal bersama ibu dirumah, dan ibu tetap mengurus mereka untuk sekolah dan lain-lain. Sejak si suami meninggalkan istri dan anak-anak, setiap hari Minggu si istri membawa anak-anak ke gereja Katolik. Dari situlah iman anak-anak tumbuh dan berkembang dalam ajaran gereja katolik. Tanpa sepengetahuan si suami, si istri membawa anak-anak dipermandikan di katolik. Dua orang anak yakni si cowok dan si cewek dipermandikan di gereja katolik, sedangkan ibu dan anak cewek bungsu tetap di gereja protestan tetapi tiap hari Minggu mereka sama-sama ke gereja katolik. Dua tahun setelah kedua anak dipermandikan, bapa mereka meninggal. Kepergian bapak meninggalkan duka bagi anak-anak karena mereka masih kecil, anak sulung baru berusia 12 tahun, anak kedua baru berusia 9 tahun dan anak bungsu berusia 5 tahun. Setelah kematian suami, istri memutuskan untuk kembali ke agama katolik bersama anaknya yang bungsu. Akhirnya ibu dan anaknya dikukuhkan dan dipermandikan di agama katolik. Sejak saat itu mereka masuk dalam keluarga katolik. Semua anak disekolahkan di sekolah katolik, dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Anak kedua, setelah menamatkan pendidikan pada sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), melanjutkan pendidika pada perguruan tinggi yakni pada sekolah tinggi ilmu pastoral (STIPAS). Sedangkan anaknya yang sulung melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu universitas pada jurusan olahraga, sedangkan adik bungsunya kini masih dibangku SMA. Anak sulung kini sudah bekerja sebagai guru penjas pada salah satu lembaga pendidikan, sedangkan adiknya nomor dua juga sebagai seorang guru agama katolik, mengajar pada salah satu sekolah milik yayasan keuskupan. Mereka semua kini menjadi katolik mengikuti jejak Oma dan Opa dari turunan ibu. Dari cerita ini, faktor utama yang membuat ibu dan anak-anak harus kembali ke katolik adalah keretakan rumah tangga yang menyebabkan pisah ranjang, kurang adanya perhatian dari seorang ayah terhadap anak-anak secara khusus berkaitan dengan kehidupan iman mereka, selain karena ketidakharmonisan hubungan suami-istri dalam rumah tangga mereka. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar