MERAYAKAN RABU ABU DI KAPELA

Sore itu, Selasa 17 February 2026, saya bersama seorang suster SSpS dan dua teman awam menuju Kapela St. Paulus -Masape-Kec. Alor selatan-Kabupaten Alor. Perjalanan kami kesana dalam rangka merayakan Ekaristi Rabu Abu pada 18 February 2026, bersama umat tiga Kapela yakni umat Kapela St. Arnoldus Janssen-Apuk, umat Kapela Sta. Maria Bunda Penebus-Manetwati dan umat Kapela St. Paulus-Masape. Perayaan ini berpusat di Kapela St. Paulus-Masape. Kami tiba disana sudah menjelang magrib pada pukul 17.40 wit (jam 5.40 sore), bertemu dan menyapa umat disana dalam suasana sukacita dengan bersalaman tanda pertemuan atau perjumpaan kembali setelah sekian Minggu tidak bertemu. Setelah saling menyapa dan bersalaman, kami menuju rumah Pastoran dan beristirahat sambil menikmati minuman kopi yang sudah disiapkan oleh umat Kapela Masape, sambil bercerita tentang perjalanan kami dan juga tentang hal-hal lain berkaitan dengan situasi dan keadaan hidup umat dikapela, juga bercerita tentang dunia pertanian, yang juga merupakan bagian penting karena sebagian besar umat disana hidup dari mata pencaharian sebagai seorang petani. Malam itu kami lewati dengan cerita-cerita bersama sambil menunggu waktu untuk tidur malam. 
Keesokan pagi pada 18 February 2026,  kami merayakan Ekaristi Rabu Abu, pembukaan masa puasa (prapaskah) dengan penerimaan Abu pada dahi setiap umat yang memulai masa pantang dan puasa. Umat yang ikut dalam perayaan Ekaristi ini adalah umat dari tiga Kapela dan perayaan dimulai pada pukul 09.00 pagi. Perayaan Ekaristi Rabu Abu adalah moment yang menandai dimulainya perjalanan spiritual menuju paskah. Perayaan ini adalah pintu masuk bagi umat untuk menjalani masa puasa dan pantang selama 40 hari sebagi bentuk persiapan bathin. Melalui ritual simbolik ini umat diajak untuk merenungkan kembali hakikat kehidupan dan pengorbanan Yesus Kristus. Perjalanan puasa dan pantang selama 40 hari mengambil simbol dari perjalanan puasa dan pantang Yesus selama 40 hari dipandang gurun. Makna dibalik penerimaan abu dalam perayaan Rabu Abu:
1. Simbol kerendahan hati; abu mengingatkan kita kembali akan kisah penciptaan bahwa manusia berasal dari debu tanah dan akan kembali ke debu tanah.
2. Tanda pertobatan; dengan menerima abu, setiap orang (umat) diajak untuk mengenal kembali kesalahan dan dosa, sikap hidup yang jauh dari Tuhan untuk kembali kejalan yang benar, jalan kembali kepada Tuhan. 
3. Tanda puasa dan pantang; dengan menerima abu, umat memulai masa prapaskah dimana setiap umat diajak untuk berpuasa dan berpantang. 

Dengan merayakan dan menerima abu, umat memasuki masa prapaskah. Dalam masa prapaskah ini, umat diajak untuk masuk dalam tiga hal penting yang menjiwai seluruh perziaraan spritual:
A. Doa: membangun' hubungan yang dekat dan erat dengan Tuhan melalui kegiatan-kegiatan rohani baik ditingkat pribadi dalam doa-doa pribadi maupun ditingkat kebersamaan sebagai komunitas iman melalui doa dikelompok umat basis, jalan salib bersama, katekese dan kegiatan rohani lainnya. 
B. Puasa: usaha untuk mengendalikan diri dari kecenderungan manusiawi, meninggalkan kebiasaan yang terlalu melekat pada hal duniawi dan berusaha untuk kembali kepada jalan yang benar.
C. Amal kasih: usaha untuk menolong atau membantu sesama, teristimewa mereka yang sangat membutuhkan dan yang berkekurangan. 
Bacaan-bacaan suci pada perayaan rabu abu mengajak umat untuk memaknai masa prapaskah ini dengan puasa dan pantang. Dalam Nubuat Yoel dikatakan bahwa berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengasuh. Koyakanlah hatiku dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengajak untuk kembali ke jalan Tuhan dan berdamai dengan diri dihadapan Tuhan dan sesama. Paulus mengatakan bahwa berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Sebab sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan itu. Matius dalam Injilnya menulis tentang firman atau sabda Yesus bagi umat tentang cara berdoa, berpuasa dan bersedekah atau amal kasih. Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang-orang munafik, tetapi masuklah kedalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada ditempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik, tetapi minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada ditempat tersembunyi, Ia akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu memberi sedekah janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan oleh orang munafik di rumah-rumah ibadat supaya dipuji orang. Apabila kamu bersedekah, hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi itu akan membalasnya kepadamu. Demikianlah inti seluruh bacaan suci pada perayaan Rabu Abu. 
Selesai perayaan Ekaristi bersama umat tiga Kapela, saya bersama suster dan umat saling bersalaman dan  bercerita-cerita diteras gereja. Sesudah itu kami makan siang bersama, dan pada pukul 14.00 wit (jam 2 siang)  kamipun mohon pamit untuk kembali keparoki. (Alfons H). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

MISA DI KAPELA MARITAING

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN