AKU DAN NASIB HIDUP

Saya seorang anak yatim piatu, sejak berusia satu tahun saya ditinggalkan ayah dan ibu lantaran hidup rumah tangga berantakan, Ayah dan ibu setiap hari selalu saja ada keributan dalam rumah tangga, penyebabnya juga kadang tidak jelas. Keharmonisan dan rasa kasih sayang terasa jauh dari hati dan pikiran mereka, cinta dan perhatian terasa bagai sebuah barang yang sunguh amal mahal untuk di beli, egoisme keduanya bagai menara tinggi yang sulit dijangkau dan sulit untuk dikompromi dengan nurani yang teduh dan pikiran yang dingin. Hampir setiap hari selalu saja ada permusuhan hebat diantara keduanya. Situasi rumah tangga seperti inilah yang menyebabkan ayah dan ibu berpisah, bahkan ibu berniat urus cerai. 
Setelah berpisah, ayah menikah lagi dengan seorang wanita lain dan mengusir ibu untuk keluar dari rumah. Saya dan ibu harus kembali kerumah Opa dan Oma.  Waktu itu saya masih berumur 6 bulan, dan ibu harus berusaha untuk membesarkan saya seorang diri, dan sejak saat itu ibu memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan ayah tentang kehidupan saya. Dengan seiring perjalanan waktu, saat saya masih berusia satu tahun, ibu menikah lagi dengan laki-laki lain sehingga ibu hidup bersama dengan suami barunya, dan saya tinggal dengan Opa dan Oma. Sejak saat itu perhatian dan kasih sayang dari orang tua terhadap saya terasa hampa, hilang ditelan perginya mereka dengan tujuan dan pencarian hidup masing-masing. Saya dibesarkan oleh Opa dan Oma, mengalami situasi hidup serba berkekurangan dalam semua hal. Tapi keadaan ini saya menikmati dan menjalaninya, tanpa ada niat protes dan mempersalahkan hidup seperti ini. Setelah kepergian ibu, saya merasa kesendirian, merasa bahwa hadirnya saya didunia ini adalah sebuah keterpaksaan dan sebuah beban bagi ayah dan ibu, hingga kini menjadi sebuah beban bagi Opa dan Oma.
Setahun hidup bersama Opa dan Oma, Oma jatuh sakit dan tidak bisa tertolong oleh medis maupun tradisional, hingga Tuhan punya rencana lain atas Oma. Oma pergi untuk selamanya meninggalkan duka yang terasa dalam dan pahit buat saya dan Opa. Sejak saat itu Opa merasa kehilangan dan hidup terasa hampa kalau diperjuangan, seakan Opa terbawa dalam kehilangan cinta yang sesungguhnya. Semangat hidup terasa jauh dari lingkaran harian Opa dan saya. Akhirnya Opa pun jatuh sakit, dan tidak ada yang tau tentang ini, saya sendiri pun tidak mengerti dan harus berbuat apa dan bagaimana? Waktu itu saya masih berusia 3 tahun. Tetangga yang datang menjenguk dan menolong Opa untuk ke rumah sakit, yang selanjutnya proses medis berjalan tapi Tuhan mungkin ingin mempertemukan Opa dan Oma dalam keabadian, sehingga Opa pun pergi untuk selamanya. Kepergian Opa dalam peristiwa kematian, membuat saya tak bisa mampu menahan duka dan kerasnya hidup yang saya jalani, seakan saya ditakdirkan untuk jalani hidup dengan penuh liku-liku dan kisahnya tersendiri. Setelah Opa meninggal, saya akhirnya tinggal dengan tetangga, kebetulan rumah berdekatan. Awal bersama tetangga terasa semuanya baik-baik saja, namun nasib dan harus hidup saya tidak setol jalan raya yang berhomtmis, tidak setedeuh sebuah pelayaran disepanjang lautan yang luas, ada riak gelombang yang menghempas diri, ada deru angin taupan yang menghantam nasib, ada hujan badai yang menemani siarah perjalanan dalam hidup bersama tetangga. Kisah pedih, pahit dan tergores sungguh menyengat dalam diri begitu kuat. Saya diperlakukan tidak baik, kasih sayang tidak pernah ada walau sedetik untuk dirasakan, seakan saya dihadapan seorang majikan yang memperkejakan kuli dalam sebuah pencarian nasib yang tidak pasti. Pukulan, kemarahan dan comelan menjadi dekorasi harian yang menghias begitu indah ketika saya hidup bersama tetangga. Pengalaman buruk yang saya panen dan nasib sial yang saya terima membuat saya harus keluar dari rumah dan kabur demi sebuah rasa yang telah tercecer dari kasih sayang seorang suami istri yang tidak tau diri, yang telah menghadirkan saya lalu dibiarkan begitu saja. Saya merasa seolah diri ini adalah manusia tak berguna, manusia beban, manusia pembawa Sial yang dihadirkan untuk merasakan artinya sengsara dan pahit. Akhirnya saya kabur dari rumah tetangga, hidup Luntang lantang tak tahu harus bersandar pada siapa dan harus berbaring dimana, harus buat apa dan bagaimana saya harus jalani hidup. Setelah kabur dari rumah, setiap hari saya hanya jalan2 tanpa tujuan. Ketika malam tiba, saya membiarkan tubuh rebah diteras pertokoan, diteras rumah-rumah elit dan diemperan perkantoran. Ketika lapar, saya mengemis di jalanan dan di warung-warung. Dengan pakaian yang dibadan, saya jalani hidup tanpa harus mengeluh dan peduli akan keadaan, intinya aku hidup dan tetap merasakan arti keras, pahit dan deritanya sebuah siarah kehidupan. Hingga pada suatu malam, saya sedang tidur di emperan sebuah toko, tiba-tiba terdengar pintu toko dibuka oleh seseorang, ternyata penjaga toko.
 Rupanya kehadiran dan keberadaan saya ditempat itu sudah dilihat dari awal, hanya saja para penjaga toko tidak berani memanggil masuk dalam toko karena takut pada pemilik. Saat pintu dibuka, penjaga memanggil saya masuk, ternyata pemilik toko yang menyuruh untuk memanggil. Saya pun ikut masuk, dan diberi makan. Sehabis makan, saya disuruh ganti pakaian dan ditawari untuk tinggal bersama dan membantu kerja ditoko itu. Seakan saya menemukan sumber air ditengah Padang gurun yang kering dan gersang. Saya pun tinggal dan bekerja pada toko itu. Kini saya sebagai seorang karyawan toko, walau umur saya masih sepuluh tahun. Saya jalani keadaan hidup bersama karyawan dan karyawati ditoko itu, tapi saya tidak pingin untuk digaji. Hanya satu niat dan harapan saya yakni bisa makan, bisa tidur dengan nyaman dan diterima serta diperlakukan dengan baik. Saya jalani nasib hidup sebagai seorang karyawan, entah dikemudian hari nasib hidup seperti apa, saya serahkan pada Tuhan pemilik dan pengatur segalanya. (Alfons H)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

MISA DI KAPELA MARITAING

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN