MENYEMBUHKAN LUKA MASA LALU
Luka bathin membuat diri terasa sakit
Luka bathin terasa relasi tidak harmonis
Luka bathin membuat diri terasa asing
Luka bathin membuat diri terasa hampa
Luka bathin membuat diri terbebani
Luka bathin terasa hidup tidak semangat
Luka bathin membuat damai terasa jauh
Luka bathin membuat kasih terasa sirna
Luka bathin membuat komunikasi buntu
Luka bathin membuat hidup terasa mati
Di aula paroki SAYORA sore itu menjadi saksi tentang moment langkah dan asing ini, dan menjadi sebuah cerita yang akan dituturkan dari generasi ke generasi dalam perjalanan hidup bersama di masa yang akan datang tentang peristiwa itu. Semua umat paroki SAYORA berkumpul dalam sebuah pertemuan untuk menoleh kembali jejak langkah masa lalu yang kelam dan menyakitkan; coba belajar mengungkapkan secara jujur dihadapan Tuhan dan sesama tentang sikap dan tutur kata yang pernah dibuat dari tindakan yang menyakitkan dan terucap dari bibir yang menggores rasa hati. Pertemuan itu menghadirkan semua orang tua dan seluruh umat dalam paroki SAYORA, berkumpul dalam semangat persaudaraan dan kasih, berbicara dari hati ke hati tentang salah dan dosa masa lalu, yang mengakibatkan ada tantangan tersendiri yang dirasakan dan dialami oleh umat, berbicara untuk saling memaafkan dan menerima demi sebuah niat bersama yakni merajut dan menenun kembali semangat persatuan dan persaudaraan, menghadirkan kembali rasa damai dan sukacita bersama.
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hening dan sungguh mengharukan, tetapi menyimpan sejuta makna tersendiri didalamnya. Pada kesempatan itu, semua orang tua diberi waktu dan kesempatan untuk coba membuka lembaran masa lalu lewat pembicaraan yang sungguh berhati-hati, penuh kekewatiran dan sangat diwaspadai karena harus mempertimbangkan rasa semua umat yang hadir, teristimewa rasa orang-orang tua yang adalah pelaku utama kesalahan dan dosa masa lalu. Butuh sebuah keberanian dan siap menerima dengan hati yang tenang dan pikiran yang dingin, karena pembicaraan berfokus pada luka-luka lama yang diam dengan tenang dalam sejarah, yang harus di buka dan diceritakan. Tetapi sesungguhnya ruang pembicaraan saat itu bukan untuk menghakimi atau mempersalahkan setiap pribadi atau pelaku kesalahan dan dosa melainkan untuk membuka ruang kejujuran demi sebuah relasi yang harus dibuat jadi harmonis dan penuh nuansa kedamaian. Satu persatu orang-orang tua itu mulai berbicara, ada nada getar dalam suara yang terdengar dan ada rasa haru yang tersirat dalam nurani terdalam. Tetapi dengan berbesar hati dan keberanian, salah dan dosa itu harus diceritakan. Dari setiap pembicaraan orang-orang tua, ada yang dengan suara bergetar mengakui kesalahan dan dosa, ada pula yang terdiam sejenak sebelum akhirnya harus berkata jujur tentang pahit dan kelamnya masa lalu. Pengakuan lewat pembicaraan orang-orang tua itu tak segampang dan sepandai merangkai kata, tetapi justru disitulah letak kekuatannya; sebuah kejujuran yang lahir dari nurani terdalam tentang diri sendiri yang pernah bersalah dan berdosa. Dalam suasana ini terlihat bahwa pengakuan bukan sekedar mengingat kesalahan dan dosa masa lalu, tetapi juga tentang memahami dampak dari kesalahan dan dosa tersebut, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, terkhusus bagi perjalanan kebersamaan sebagai umat dalam satu paroki.
Pembicaraan pengakuan akan semua kesalahan dan dosa masa lalu didominasi oleh para orang-orang tua karena merekalah pelaku sejarah tentang semua kejadian atau peristiwa waktu itu. Dengan saling mendengarkan, saling memahami dan saling memaafkan muncul rasa empati yang perlahan mengikis jarak dan jurang kelam diantara mereka. Dengan ini tidak berarti semua permasalahan diselesaikan secara tuntas tetapi paling tidak ada kejujuran dari dalam diri untuk mau merangkul kembali tali persaudaraan, persahabatan dan kekeluargaan. Disinilah ada kesadaran bahwa pengakuan adalah pintu menuju pemulihan atau rekonsiliasi baik secara pribadi maupun secara bersama. Pertemuan pengakuan ini juga menjadi pengingat bahwa semua manusia tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Tetapi dibalik kesalahan dan dosa tersebut selalu ada kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri dan membangun kembali hubungan yang pernah retak, demi satu tujuan bersama yakni berdamai dan bersahabat dalam cinta kasih.
Dalam sesi pengakuan akan kesalahan dan dosa masa lalu tersebut, ada ruang dan waktu untuk saling meneguhkan sekaligus saling mengingatkan diantara para orang-orang tua agar perjalanan kebersamaan di hari-hari yang akan datang tidak ada lagi beban yang harus dipikul. Moment pengakuan ini menjadi kesempatan untuk meringankan dan bahkan membuang beban masa lalu yang telah dipikul bertahun-tahun dalam perjalanan dari waktu ke waktu.
Sebelum mengakhiri pertemuan rekonsiliasi ini, ada moment peneguhan dan harapan yang disampaikan oleh beberapa orang tua mewakili rasa semua umat, ada peneguhan dan harapan dari pengurus Dewan Pastoral Paroki, ada peneguhan dan harapan dari para pastor baik pastor paroki maupun pastor rekan. Pertemuan ini diakhiri dengan saling memaafkan dan saling berjabatan tangan sebagai wujud rekonsiliasi. Tawa dan senyum menghiasi suasana berjabatan tangan diakhir pertemuan tersebut, walau ada rasa haru yang masih terasa dari sisa pengakuan dalam pertemuan. Rasa haru, senyum dan tawa menjadi puncak dari ungkapan rasa tertinggi akan moment rekonsiliasi. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar