PERAYAAN EKARISTI REKONSILIASI

Hari itu kamis 19 Maret 2026, sore pada pukul 17.00 wit (05.00) bertempat di Gereja Paroki St. Yakobus Rasul (SAYORA)- Bukapiting-Alor, ada perayaan Ekaristi Rekonsiliasi, yang merupakan kelanjutan dan wujud konkrit kesepakatan bersama dalam pertemuan rekonsiliasi pada Minggu 15 Maret 2026. Hadir dalam perayaan Ekaristi tersebut adalah semua umat yang berada dipusat paroki SAYORA dan juga umat paroki SAYORA yang berdomisili diluar paroki. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh pastor RD. Robert Faot dan didampingi pastor RD. Alfons Hokon. Ju Perayaan ini bertepatan dengan pesta St. Yusuf suami Maria. Keteladanan hidup iman Santu Yusuf menjadi inspirasi terindah bagi perjalanan kebersamaan umat dalam paroki SAYORA.
Perayaan Ekaristi rekonsiliasi merupakan salah satu perayaan iman yang memiliki makna sangat mendalam dalam kehidupan umat beriman. Dalam perayaan ini umat diajak kembali menyadari kasih Allah' yang tak terbatas, sekaligus membuka hati untuk menerima pengampunan dan belas kasih-Nya. Perayaan ini bukan sekedar ritual iman tetapi lebih dari itu merupakan sebuah moment penting dalam iman sebagai perwujudan sebuah perjalanan bathin untuk memperbaharui hubungan yang baik dan harmonis dengan Tuhan dan sesama. 
Dalam kehidupan masa lalu, perjalanan kebersamaan seringkali tercederai dan terluka oleh karena egoisme, gengsi, kepentingan dan tuntutan akan sesuatu yang membuat hubungan menjadi tidak harmonis dan jauh dari nilai-nilai cinta kasih. Maka mellalui perayaan ekaristi rekonsiliasi umat diajak untuk berhenti sejenak, merenung dan melihat kembali perjalanan masa lalu yang kelam dan terbentang jurang pemisah yang begitu dalam, yang kemudian dengan kesadaran penuh mengakui kesalahan diri dan berusaha untuk saling memaafkan satu sama lain sehingga rahmat dan berkat Tuhan yang diperoleh dalam Ekaristi menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan hidup selanjutnya.  
Pengakuan akan diri yang bersalah dan berdosa merupakan sebuah tindakan kejujuran yang mengalir dari hati yang terbuka untuk berdamai. Disinilah letak kejujuran sejati; berani melihat diri apa adanya tanpa topeng dan menyerahkan segalanya kekurangan dan keberdosaan diri kepada Tuhan yang adalah pengatur dan penyelenggara kehidupan manusia. Pengampunan yang diterima dari Tuhan menggerakan hati setiap umat untuk juga saling mengampuni satu sama lain, sebab luka bathin dan konfilik keretakan dalam kebersamaan menjadi sebuah penghalang dalam membentuk relasi yang sehat dan damai. Maka sesungguhnya misa rekonsiliasi ini juga menjadi kesempatan untuk melepas beban masa lalu dan membangun kembali persaudaraan yang tulus. Disisi lain misa rekonsiliasi mengingatkan bahwa hidup adalah proses perjalanan pertobatan yang terus menerus. Setiap kali luka, kita diharuskan untuk menyembuhkan, setiap kali jatuh, kita berani bangkit kembali dan setiap kali saling berjauhan, kita harus menyadari untuk kembali dekat. Inilah irama perjalanan setiap kita umat yang beriman dan ingin hidup berdampingan dengan harmonis dan damai. 
Pada moment perayaan Ekaristi rekonsiliasi tersebut, bertepatan dengan gereja merayakan atau memperingati Pesta Santu Yusuf suami Maria. Pengalaman bathin Santu Yusuf ketika berhadapan dengan keadaan Maria, menjadi inspirasi iman bagi perjalanan hidup kebersamaan umat paroki SAYORA dimasa-masa yang akan datang. Berdasarkan cerita dalam beberapa Injil, Yusuf dan  Maria memang memiliki relasi khusus sebagai seorang pria dan wanita dalam menjalani dan menjalin hubungan asmara. Mereka sama-sama saling menaruh rasa suka dan simpati satu sama lain, dan berusaha menjalaninya dari waktu ke waktu dalam siara kehidupan mereka. Sampai pada suatu waktu, Allah punya rencana lain terhadap diri Maria. Allah menghendaki sebuah keterlibatan atau peran manusia dalam misteri keselamatan yang direncanakan oleh-Nya, dan peran manusia ini disematkan pada  pribadi Maria sebagai pilihan Allah. Allah membuat rahim Maria sebagai tempat Allah itu hadir ditengah-tengah dunia melalui kuasa Roh Kudus. Maria mengandung dari Roh Kudus, karena rencana dan kehendak Allah sendiri. Peristiwa perkandungan Maria inilah menjadi sebuah problem bathin bagi seorang Yusuf. Dari sisi Allah, perkandungan Maria adalah rencana-Nya bagi keselamatan manusia tetapi dari sisi Yusuf, perkandungan Maria menjadi sebuah problem bathin, pukulan berat terhadap relasi yang telah dia dan Maria jalani, yang membuat Yusuf sakit hati, benci, kecewa dan bahkan ingin menjauhkan diri dari manusia. Yusuf tidak mau lagi menjalani hubungan dengan Maria, ia ingin pergi menjauh dan menghilangkan diri dari kehidupan Maria. Dalam situasi perasaan Yusuf yang demikian, Allah hadir untuk memberikan peneguhan dan kekuatan bagi Yusuf. Allah ingin sebuah relasi atau hubungan manusia tetap terpelihara secara harmonis dan penuh nuansa kedamaian, Allah tidak menghendaki sebuah pemisah relasi antara Yusuf dan Maria, sehingga penawaran rekonsiliasi dari Allah bagi keduanya merupakan solusi terbaik untuk sebuah relasi yang dijalani oleh manusia, secara khusus bagi Yusuf dan Maria. 
Yusuf akhirnya berdamai dengan Maria atas inisiatif dari Allah. Yusuf pergi bertemu dengan Maria, dan menerima Maria masuk dalam relasi harmonis untuk jalani hidup bersama dalam damai dan sukacita. Demikianlah Allah juga menghendaki sebuah rekonsiliasi bagi manusia yang punya problema dalam relasi. Allah ingin manusia kembali merajut kasih dan persaudaraan dalam kehidupan bersama, Allah tidak menginginkan pemisahan atau jurang antar manusia. Seperti Allah mengembalikan Yusuf kepada Maria, demikian Allah mengembalikan manusia pada sebuah relasi yang damai dan penuh kasih persaudaraan. Misa rekonsiliasi merupakan sebuah penawaran dari Allah bagi manusia agar menerima Rahmat pengampunan dan bertindak saling mengampuni satu sama lain; menerima rahmat beladkasih supaya saling mengasihi dalam kasih persaudaraan dan menghidupinya dalam setiap tindakan, baik dalam kehidupan berkeluarga, bergeraja dan bermasyarakat. Setelah Yusuf kembali dan menerima Maria sebagai Istrinya, dia menemani siarah kehidupan bersama Maria dengan menemani, mendampingi dan melindungi Maria. Maka sesungguhnya misa rekonsiliasi merupakan kesempatan umat diajak untuk saling menerima, saling mendoakan, saling mendukung, dan litani kebaikan lainnya yang mampu melahirkan suasana hidup yang damai dan sukacita. Dengan sikap hidup seperti inilah, kita sekalian diajak untuk kembali merajut tali kasih persauadaraan dalam hidup. (Alfons H). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

MISA DI KAPELA MARITAING

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN