DI BALIK DINDING BIARA
Sebut saja namanya Maria, seorang gadis berasal dari sebuah dusun yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kekotaan. Hidup bersama kedua orang tua dan keluarga di dusun itu terasa begitu menyenangkan dan sangat berarti bagi dirinya dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Suasana kehidupannya di dusun itu membuat Maria merasa disayang dan dicintai oleh kedua orang tua, keluarga dan sahabatnya. Setelah menamatkan pendidikan pada sekolah menengah pertama (SMP), Maria melanjutkan pendidikan tingkat atas (SMA) di sebuah kampung yang berdekatan dengan kampungnya, sehingga jarak tempuh dari rumah ke sekolah hanya berjalan kaki. Setiap pagi di setiap hari Maria berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan begitupun sebaliknya. Rutinitas kehidupan seperti ini adalah sebuah kebiasaan yang sudah ia jalani hari demi hari, waktu demi waktu. Tidak ada rasa jenuh dan bosan, karena memang suasana dan panorama irama hidup seperti ini sudah menjadi sebuah budaya bagi sebagian besar orang desa (kampung). Seiring berjalannya waktu, suatu ketika disekolah itu kedatangan beberapa orang suster dalam rangka sosialisasikan (promosi panggilan) tentang kehidupan seorang biarawati, terlebih khusus tentang kehidupan spiritual konggregasi mereka. Dengan cermat Maria mengikuti sosialisasi para suster, dan akhirnya dari lubuk hati yang begitu mendalam ada bisikan halus namun kuat yakni mau menjalani kehidupan sebagai seorang biarawati. Maria akhirnya memutuskan dengan penuh keyakinan dan kepastian untuk menjadi seorang suster. Niat hati dan keinginannya ini ia sampaikan kepada kedua orang tua. Jawaban dari orang menyetujui apa yang Maria mau dan kemauan ini ia pelihara sampai menamatkan pendidikan pada sekolah lanjutan atas.
Tiba waktunya Maria harus meninggalkan kedua orangtuanya, keluarga, sahabat dan suasana hidup di dusun itu, ia pergi menjejaki niat hati dan keinginannya di kehidupan membiara. Dibalik tembok biara yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk dunia luar, Maria menjalani rutinitas hidupnya yang sungguh amat berbeda dengan apa yang pernah ia jalani selama masih di kampung. Hari-hari hidupnya kini diatur dengan irama kehidupan sebagai seorang biarawati; bangun sebelum fajar, berdoa, bekerja, menjalani tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan dari komunitas, melayani sesama teman dalam komunitas dan umat dalam kasih dan persaudaraan. Rutinitas ini adalah bagian penting yang akan membentuk dirinya dalam suara spritual sebagai seorang biarawati. Di balik kemegahan bangunan biara, Maria menjalani semuanya hanya demi satu tujuan yakni melayani Tuhan dan sesama. Maria yakin dan percaya bahwa dalam keheningan doa pribadi dan doa bersama menjadi sumber kekuatan yang ia peroleh dari Tuhan yang memanggil dan akan mengutusnya. Maria menenun hidup dengan tenang dalam jejaknya dibalik dinding biara demi Tuhan dan sesama yang akan menjadi bagian utuh dalam ziarah panjang perjalanan panggilannya dikemudian hari.
Namun kehidupannya yang tampak tenang dalam biara itu perlahan mulai terasa semacam goncangan yang dahsyat menerpa, kesunyian dan ketenangan yang dibalut dalam doa yang khusuk itu seketika terasa hampa, irama hidup dalam lingkaran rutinitas aturan biara tak lagi jadi sajian menu yang menikmatkan jiwa-raga, seakan ada rapuh yang sedang beriringan disepanjang hidup dibalik dinding biara.
Maria menarik nafas yang dalam dan mulai bertanya dalam diri tentang arti sebuah ziarah menuju jalan khusus yang adalah DIA yang memanggil. Ada sebuah tantangan berat yang harus ia hadapi dan jalani yakni permenungan arti diri yang sesungguhnya dihadapan Sang Pemanggil. Ada tantangan yang terasa diruangan yang sunyi dan sepi, bergejolak dengan bathin tentang tantangan yang bersumber dari dalam diri. Maria mulai merasa keraguan, bukan tentang imannya kepada Tuhan tetapi tentang kemampuannya untuk terus setia dan bergelut dijalan panggilan. Maria dihantar menuju sebuah cermin untuk melihat kemampuan diri yang kini sedang bergejolak dengan bathin yang tidak lagi tenang dan damai. Hari-hari dalam situasi bathin demikian, Maria begitu iri pada sesama teman suster yang begitu damai dan bahagia dengan panggilan mereka, sementara' dirinya kini diliputi kegelisahan dan keraguan.
Tantangan lainnya datang ketika keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Sebagai anak sulung dalam keluarga, Maria ikut merasakan kesulitan itu dan merasa bertanggungjawab membantu. Ia mulai bertanya-tanya, apakah keputusannya untuk tinggal dalam biara adalah bentuk pengorbanan yang benar atau justru sebuah pelarian dari tanggungjawab duniawi. Perasaan bersalah ini sering mengganggu bathin tatkala ia harus berdiam diri dan berdoa dihadapan Tuhan, membuatnya sulit merasakan kedamaian yang dulunya begitu akrab dan menjadi bagian sukacitanya dalam panggilan.
Di sisi lain kehidupan komunitas di biara juga tidak selalu mudah. Perbedaan karakter antar suster kadang menimbulkan gesekan kecil. Maria harus belajar menahan diri, menerima diri apa adanya dan berusaha berdamai dengan diri dan memahami bahwa hidup bersama berarti menghargai kelebihan sesama dan menerima kekurangan satu sama lain.
Pada suatu malam dalam keheningan doa diruang kapel itu, hampir satu jam Maria duduk sendiri menelusuri dengan cermat semua pergumulan bathinnya dihadapan Sang Pengenal segala. Ia berusaha memahami dan menerima semua kekurangan dan kelemahannya, membuka diri untuk setiap titik lemah yang ada dalam diri. Dengan sisa keberanian dan kekuatan yang ada dalam diri, Maria harus mengakui secara jujur dihadapan Sang Khalik bahwa sesungguhnya pergumulan dibalik dinding biara seharusnya ada jeda lemah yang mesti ditenun kembali agar bisa mampu melewati jejak langkahnya dalam kehidupan membiara. Ia akhirnya menyadari bahwa panggilan hidupnya bukan tentang menjadi sempurna melainkan tentang terus berjalan meski penuh kerapuhan dan keraguan. Ia belajar memahami dan mengerti dengan baik bahwa tantangan bukanlah soal kegagalan dan ketakmampuan melainkan tantangan merupakan bagian utuh yang melekat dalam diri yang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dalam doa dan bercermin dihadapan Allah yang memanggilnya. Ini merupakan srbuah jalan spiritual dalam jejak panggilan, yang kian hari harus dilewati supaya kekuatan iman terus dibentuk dari hari ke hari. Sejak saat itu Maria tidak lagi melihat tantangan sebagai sebuah beban melainkan sebagai sebuah proses pembentukan diri yang kuat dalam tapak panggilan dan proses menuju pendewasaan iman. Maria menerima dengan sepenuhnya rencana Allah atas dirinya dengan cara yang berbeda, cara Allah mematangkan langkahnya dan cara Allah menguji ketahanan dirinya dalam ziarah panggilan menjadi seorang suster. Pada titik ini kekurangan dan kelemahan manusiawinya harus mengalami situasi gelap, sehingga membutuhkan terang dari Allah yang memanggilnya. Kini Maria dengan langkah tertatih namun pasti tetap jalani apa yang telah ia memulai sejak awal dan tentang Tuhan yang sedang membentuknya menjadi dewasa dalam panggilan dan dalam imannya. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar