HATI YANG TERLUKA TAPI MEMAAFKAN
Diruangan yang sunyi dan hening
Ditemani dinding rumah
Disaksikan seisi ruangan yang tak berkata
Tentang imam Tuhan yang terluka
Tentang umat Tuhan yang kehilangan rasa hormat
Ada jejak media sosial yang memberitakan...
Dibalik jubah putih yang ia kenakan dengan nada tenang,
Ada goresan luka yang tak terlihat
Berdenyut tapi begitu pelan
Bukan hanya di tubuh
Tetapi di tempat yang paling sunyi dalam hatinya....
Ia datang membawa damai untuk semua
Mengajarkan kasih yang tak memilih
Dalam Ekaristi sebagai puncak segalanya
Namun tangan yang seharusnya berdoa
Berubah jadi sebuah kepalan meninju
Kepalan itu seketika mendarat di tubuh yang berjubah
Dan altar terasa lebih dingin dari biasanya
Seakan altar runtuh dari kepalan itu
Raga berjubah itu terhanyut dalam rebahan derita
Seakan salib tampak lebih berat dari hari-hari yang lalu
Ia sakit dan mungkin marah
Tapi ia coba menahan dengan kekuatan yang bersumber dari DIA yang memilihnya
Ia coba memadamkan amarah
Ia coba menahan sakit
Karena nuraninya berbisik kata tenang
Denyutannya berkata maafkanlah
Jubah itu tercabik
Tubuh itu memar
Hati itu remuk
Jantung berdebar tak beraturan
Tapi di sela retak itu
Ia masih menyimpan setitik terang
Bahwa memaafkan bukan berarti melupakan,
Melainkan memilih untuk tetap mencintai
Meski hati pernah dihancurkan
Dan esok hari dengan langkah yang masih goyah....
Ia harus kembali berdiri dihadapan kepalan itu
Dalam Ekaristi yang penuh kasih dan damai...
Tapi bukan sebagai orang yang terluka
dan menyimpan dendam
Tetapi sebagai pribadi yang memilih untuk tetap setia pada DIA yang mengutus
Dia luka dan tersakiti
Tapi memilih mendoakan
Dia menangis dan meratap
Tapi memilih memaafkan
Dia jatuh rebah ditanah
Tapi memilih bangkit
Dia lelah dan tak berdaya
Tapi memilih setia..
(Alfons H)
Komentar
Posting Komentar