KEDALAMAN KETAATAN BUNDA MARIA

         "Mama Bunda, Doakanlah kami"

Ruangan sunyi itu berubah jadi dialog
Antara Allah dan Manusia
Sebuah penawaran sentak menuntut jawaban 
Ada suara lembut yang menembus relung jiwa Bunda Maria
Ada bisikan ilahi menembus sum-sum Bunda Maria
Itu bukan gemuruh
Bukan juga kilat menyambar
Tapi panggilan yang menuntut jawaban
Tawaran menuntut penyerahan 
Dari surga yang menawarkan bumi
Dari Allah yang memilih manusia

Malaikat Gabriel menyapa dengan lembut
Membisikan kata pesan dari Allah
Kepada Maria diruangan sunyi itu
"Salam hai engkau yang dikaruniai"
"Tuhan menyertai engkau"
Seketika tanda heran membekas diwajah Bunda Maria
Lalu dalam diam nurani pun bertanya
"Apa arti semua itu"

Dalam nada pasti dan penuh keyakinan 
Malaikat Gabriel meneguhkan nurani 
Menguatkan raga yang lemah itu
Memberi harapan pada jiwa yang letih
"Jangan takut"
"Allah akan menyertai engkau"
"Anugerah Allah akan turun atasmu"

Dari tubuh yang tak layak dihadrat
Dari jiwa yang tak pantas diagungan
Dari kerapuhan manusia rapuh
Bunda Maria tertundak dalam tanya mendalam 
Tapi dari bibirnya mengatakan dengan nada kepastian
"Aku ini hamba Tuhan"
"Jadilah padaku menurut kehendak-Mu"

Dialog itu pun menuai jawaban pasti
Memecah kesunyian dalam jawaban anak manusia
Menembus jagat dalam rencana keselamatan 
Membuka tirai bagi Allah untuk hadir

Tapi sesungguhnya jawaban itu
Bukanlah rangkain kata yang ringan 
Bukan pula jalan yang tanpa luka
Tapi dari bibir yang melahirkan ketaatan
Dan dari kesediaan yang menghadirkan sejarah bagi dunia

Bunda yang mengandung misteri
Memeluk janji dalam keraguan
Menyimpan rahasia dalam diam 
Melangkah tanpa petunjuk selain iman

Ia tidak menawarkan takdir
Tidak juga menunda jawaban
Tidak meminta kepastian selain kasih
Membiarkan hati dalam keterbukaan 
Menjadi tempat kehendak Allah berakar dan bertumbuh

Dibawah bayang salib pun
Ketaatan itu tidak pudar
Ia berdiri teguh walau hati terluka
Menatap tanpa berkedip
Dengan air mata yang tidak menolak 
Dengan cinta yang tidak menyerah
Dengan pelukan luka tapi dibalut kasih

Bunda yang taat dan setia
Ajarlah kami juga berkata "ya"
Dalam gelap yang tak kami mengerti
Dalam sulit yang tak kami mampu
Dalam derita yang menusuk nurani
Dalam jalan yang tak kami pilih
Dalam kehendak yang lebih besar dari diri kami

Sebab sesungguhnya dalam setia dan taatmu
Kami belajar tentang arti iman yang sesungguhnya 
Tentang diri yang berserah pada kehendak-Nya
Tentang bibir yang mengucap janji setia
Tapi semua itu bukan kehilangan
Melainkan awal keabadian bersama Tuhan

(Alfons H)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MISA DI KAPELA MARITAING