TETAP SENYUM SAAT MENINGGAL
Sebuah kisah inspiratif sekaligus sebuah peristiwa langkah dalam sejarah perjalanan hidup manusia datang dari seorang biarawati asal Argentina yakni Suster Cecelia Maria, seorang biarawati dari konggregasi karmelit tak berkasut. Lahir di San Martin de Los Andes, Argentina, bergabung dalam kongregasi Karmelit Tak berkasut pada usianya yang ke-24, lulusan keperawatan dan bekerja sebagai seorang perawat pada pelayanan Saints Teresa and Joseph di Argentina.
Kisah hidupnya, terutama foto dirinya yang tetap tersenyum saat meninggal telah menyentuh hati sebagian jutaan orang dan menjadi inspirasi iman yang begitu mendalam. Suster Cecelia Maria meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker lidah dan para-paru. Foto dirinya yang tersenyum saat meninggal mengisyaratkan kedalaman makna dari peristiwa kematian manusia. Dalam keheningan yang penuh penyerahan dan Rahmat, Suster Cecelia Maria mengakhiri peziaraan hidupnya di dunia. Namun kepergiannya bukanlah kisah duka yang kelam, melainkan sebuah kisah dan kesaksian iman yang menggetarkan hati: ia meninggal dengan senyum yang lembut tergambar diwajahnya. Senyum itu bukan sekedar gerak bibir terakhirnya, melainkan pancaran ketenangan dan damai yang lahir dari jiwa yang telah lama berserah sepenuhnya pada kehendak Tuhan.
Bagi mereka yang hadir di saat-saat terakhir hidupnya, pemandangan itu menjadi pengalaman rohani yang sarat makna dan sulit untuk dilupakan. Ditengah penderitaan fisik karena kanker lidah dan paru yang menggerogoti raganya, tidak ada rasa ketakutan dan kegelisahan yang ia alami melainkan sebuah rasa damai dan tenang yang begitu indah terpancar dari raga yang rapuh karena penyakit. Dia begitu damai dan tenang dengan raganya yang tak berdaya karena dalam nuraninya yang paling dalam, berbisik lembut Tuhan menerima dan merangkulnya dalam pelukan kekekalan; tersenyum seolah ia sedang memandang sesuatu yang indah dari Tuhan yang memanggil pulang; tersenyum karena ia bertemu dengan sahabat sejati dan mempelainya dalam keabadian; tersenyum karena ia bertemu dengan Tuhannya. Senyumnya seakan menjadi sebuah jawaban atas doa-doa yang ini ia panjatkan; kerinduan mendalam untuk bersatu sepenuhnya dengan Sang Pencipta. Sepanjang perjalanan hidupnya sebagai seorang biarawati, ia kurang dikenal, iaadalah seorang yang tenang, setia dan rendah hati. Ia menjalani panggilannya bukan sebagai beban melainkan sebagai anugerah. Dalam kesederhanaan biara, dalam kesunyian dan keheningan doa, dalam kesibukan melayani sesama, ia menemukan sukacita yang tidak bergantung pada dunia. Ia percaya bahwa setiap tindakan kasih, sekecil apapun, itu adalah persembahan yang sungguh berarti dan berharga dihadapan Tuhan. Suster Cecelia Maria melayani orang kasih dengan penuh kelembutan kasih dan cinta, menguatkan mereka yang putus asa dengan kata-kata yang penuh pengharapan, dan mendampingi dan menghibur mereka yang sepi dengan kehadiran yang menenangkan. Dalam dirinya banyak orang melihat pantulan kasih Kristus yang hidup. Ia tidak berbicara banyak tentang dirinya sendiri, tetapi hidupnya berbicara dengan jelas tentang iman yang teguh dan cinta kasih yang tulus.
Dalam tradisi iman kristiani, kematian bukanlah akhir melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal. Apa yang dialami oleh Suster Cecelia Maria merupakan gambaran nyata dari pengharapan itu. Senyumnya saat meninggal seakan menjadi tanda bahwa ia menyambut dan mengalami kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan sebuah perjumpaan spiritual yang ia rindukan- sebuah pertemuan dengan Tuhan yang ia cintai sepanjang perjalanan hidupnya sebagai seorang biarawati. Banyak orang percaya bahwa damai yang terpancar dari wajahnya yang tersenyum saat meninggal adalah buah dari sebuah kehidupan doa yang mendalam. Dalam keheningan ia belajar untuk mendengarkan, dalam penderitaan ia belajar untuk berserah dan dalam kematian ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Semuanya itu membentuk hatinya menjadi tempat yang lapang bagi kasih Tuhan, sehingga pada akhirnya dapat pergi dengan damai yang sempurna. Kepergiannya meninggalkan duka dan kesedihan tetapi juga penghiburan yang tak terduga. Senyum akhirnyme jadi sebuah pesan mendalam bagi semua orang bahwa iman yang sejati tidak hanya tampak dalam kata-kata tetapi juga dalam cara seseorang menghadapi akhir hidupnya. Ia mengajarkan bahwa ketika hidup dijalani dalam kasih dan kesetiaan maka kematian pun dapat disambut dengan damai.
Kisah Suster Cecelia Maria adalah undangan bagi setiap orang untuk kembali merenungkan kembali arah hidupnya. Apakah kita hidup dengan cinta dan pelayanan yang cukup? Apakah kita telah memberi dengan tulus dan ikhlas? Apakah kita telah siap bahwa suatu hari nanti kembali kepada Tuhan dengan hati yang tenang dan penuh damai?
Senyum itu kini menjadi sebuah kenangan yang tak akan pudar dan hilang ditelan bumi-sebuah tanda bahwa dibalik misteri kematian, ada terang harapan dan kehidupan kekal yang menanti. Dan melalui misteri kehidupan dan kematian Suster Cecelia Maria mengingatkan kita bahwa tujuan akhir dari perjalanan ini bukanlah dunia, melainkan perjumpaan kekal dalam keabadian bersama Tuhan. (Alfons H).
Komentar
Posting Komentar