TUHAN ADA DISNI, ITU CUKUP BAGIKU

               Aku terjerat dijalur Tuhan
   Aku terbawa arus dalam rencana Tuhan

Aku menemukan Tuhan tidak hanya ditempat-tempat yang megah, di altar yang suci dan berkaliau, atau dalam doa yang panjang dan fasih. Aku juga menemukan-Nya disini, di antara wajah-wajah lelah yang menunggu kepastian, di tangan-tangan gemetar yang menggenggam harapan terakhir, di mata yang terlalu sering menangis hingga lupa bagaimana caranya bertahan dan percaya. 

Aku seorang wanita menenun hidup dalam panggilan Tuhan, tetapi panggilanku tidak berhenti dan berada dalam lingkaran dinding biara. Aku berjalan di tempat-tempat yang sering dihindari orang: dibandara bagian kargo, dipelabuhan bagian yang sunyi, diruangan penampungan yang sesak, diperbatasan yang dingin dan tak ramai. Di sana aku bertemu mereka - para migran, para korban perdagangan manusia, para jenasah yang mati dipaksakan, para tenaga kerja yang hidupnya seperti terlempar dari peta dunia. 

Mereka datang dengan cerita-cerita yang sulit ditanggung oleh kata-kata, tangisan histeri yang meratap nasib ditelan ganasnya dunia, tentang janji pekerjaan yang berubah menjadi jerat, tentang perjalanan yang menghapus nama dan identitasnya, tentang tubuh yang diperlakukan seperti barang dan tentang kehilangan yang sulit dijelaskan penyebabnya. 

Maka dalam hening dan sunyi aku bertanya, dimana Tuhan dalam semuanya ini?

Dalam tanya yang sunyi dan hening itulah aku menemukan Tuhan dengan cara yang berbeda.

Tuhan ada dalam keberanian seorang ibu yang tetap tersenyum meski ia tidak tahu apakah besok anaknya bisa makan, seorang ibu yang tetap tegar walau ada luka yang menyayat tubuh. Tuhan ada dalam seorang pemuda dan pemudi yang meski dipukul dan ditipu tetapi tetap memilih tidak membalas dengan keberanian untuk membenci. Tuhan ada dalam pelukan diam antara dua orang asing yang saling menguatkan tanpa bahasa yang sama. 

Dan entah bagaimana, Tuhan juga hadir dalam diriku, bukan sebagai sebuah jawaban pasti, tetapi sebagai sebuah dorongan untuk tetap tinggal, mendengarkan, memeluk dan tidak pergi dari situ. Ikut rasa dan turut meneteskan airmata ketika tubuh itu tak bernyawa di hadapanku. 

Ada hari-hari ketika aku merasa kecil dan tak berdaya. Dunia ini terlalu ganas dan kejam untuk diubah oleh satu orang. Tetapi setiap kali aku hampir menyerah, seseorang menggenggam tanganku erat dan dengan pelukan hangat berkata "Terima kasih sudah ada bersama disini". Saat itulah aku tahu bahwa kehadiran ku bukan sebuah solusi besar, tetapi ia sungguh berarti. 

Aku tidak lagi mencari Tuhan ditempat yang jauh. Aku tidak menuntut mujizat besar. Bagiku, cukup melihat seseorang yang kembali percaya bahwa hidupnya berharga dan itu sudah menjadi tanda kehadiran-Nya. 

Tuhan ada disini....

Diantara luka yang belum sembuh 
Ditengah perjalanan yang belum selesai
Ditengah nasib yang masih menanti harapan
Diantara jenasah yang bersemayam dalam diam dan kaku
Didalam air mata yang perlahan berubah jadi harapan dan kekuatan. 

Dan itu sudah cukup bagiku. 

(Alfons H). 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MISA DI KAPELA MARITAING