DI LORONG YANG SUNYI DIA MEMILIH
Langkah perlahan tapi dalam kepastian mengayun berjalan terus di lorong yang sunyi itu, menapaki jejak dalam sebuah ziarah yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk duniawi. Memisahkan diri dari tawaran kenikmatan dunia yang sungguh menjanjikan dan memberikan segalanya. Langkah itu tetap saja melewati lorong yang sunyi itu demi sebuah pilihan mulia, yang sedari awal telah terpatri kuat di nurani terdalam. Ingin memisahkan diri dari dunia tapi bukanlah sebuah pelarian melainkan sebuah pencarian tentang masa depan dan makna hidup yang sesungguhnya. Ditemani alam dalam kicauan burung, suara dedaunan ditiup angin, bunyi bising dunia, dia tetap tenang melewati jalan di lorong itu hingga menemukan makna diujung jalan; makna tentang sebuah perjumpaan spiritual yang intim dengan Tuhan; makna tentang sebuah keheningan dalam doa, makna tentang sebuah pelayanan cinta kasih dalam karya nyata. Itulah dia yang memilih jalan di lorong yang sunyi, dalam dinding biara yang penuh keheningan, dalam kasih yang menuntut sebuah pelayanan dari nurani yang tulus.
Di dunia yang ramai oleh suara, tepuk tangan dan keinginan untuk dikenal dan menjadi populer, dia memilih hidup membiara, yang sering tampak seperti memilih jalan yang ganjil dan sunyi. Ketika banyak orang berlomba mencari tempat ditengah sorotan, ia justru melangkah maju dan masuk ke lorong yang sunyi. Lorong itu tidak dipenuhi pujian, tidak dihiasi kemewahan yang dinikmati secara bebas, bahkan kadang dipenuhi kesepian dan pengorbanan. Namun justru disanalah banyak jiwa menemukan makna terdalam dari hidup; melayani Tuhan dan sesama dengan hati yang tulus.
Memilih hidup membiara bukanlah sebuah pelarian diri dari dunia, namun sebaliknya itu adalah keputusan sadar dan tanggungjawab untuk mencintai dan melayani dunia dengan cara yang berbeda. Ia yang membiara meninggalkan banyak hal yang secara manusiawi indah dan wajar; meninggalkan keluarga yang secara kekerabatan telah terpatri kesatuan intim yang begitu kuat dan membekas; kenyaman pribadi dan cita-cita tertentu, bukan karena semuanya itu buruk tetapi ia merasa dipanggil untuk memberikan dirinya secara utuh dan penuh bagi karya Tuhan.
Walau demikian di lorong yang sunyi itu tidak mudah untuk dilewati. Ada hari-hari ketika doa terasa kering, pelayanan terasa melelahkan dan pengorbanan seakan sia-sia dan tidak dipahami secara baik oleh siapapun. Dalam diam dibalik tembok biara, ia berhadapan dengan dirinya sendiri; dalam luka yang tersimpan dengan rapi; dalam kelelahan yang tak sanggup terucap; dalam kelemahan dan kerapuhan yang diam dalam nurani dan dalam kesepian yang diperjuangkan untuk dinikmati dengan baik dan bersifat positif.
Kesunyian akhirnya menjadi cermin yang jujur. Di sana keramaian jarang ditemukan, yang bisa dipakai untuk menyembuhkan hati. Namun justru dalam keheningan itulah Tuhan bekerja perlahan, membentuk jiwa menjadi lebih lembut, sabar, kuat dan bertahan dan penuh kasih.
Kesunyian dalam hidup membiara bukan berarti hidup tanpa cinta. Sebaliknya dilorong yang sunyi itu adalah ruang agar cinta dapat tumbuh lebih luas. Ia yang membiara belajar untuk mencintai tanpa harus memiliki, ia hadir bagi mereka yang sangat membutuhkan perhatian dan cinta, ia hadir bagi mereka yang sakit dan membutuhkan penghiburan, ia hadir membalut dengan kasih sayang bagi mereka yang terluka, terasingkan/tersingkirkan dan yang miskin, memberkati semua mereka dari tangan terurap yang menghadirkan sukacita dan damai. Pelayanannya mungkin sederhana dan sering tidak terlihat viral, tetapi dari tangan yang tekun itulah banyak orang merasakan wajah kasih Tuhan.
Ada kekuatan besar dalam hidup yang tersembunyi. Dunia mungkin lebih mudah mengingat mereka yang berdiri dipanggung, tetapi Tuhan juga bekerja melalui ia yang setia dalam diam, ia yang tekun dalam doa, ia yang merawat orang sakit dengan cinta tanpa lelah, ia yang melayani dengan hati yang sederhana - ia adalah lilin kecil yang menyala di tempat sunyi, memberi terang tanpa banyak bicara, menerangi semua tanpa membedakan.
Memilih lorong yang sunyi berarti percaya bahwa nilai hidup tidak diukur dari seberapa banyak ia dikenal melainkan dari seberapa tulus ia melayani dan mengasihi dengan cinta. Ia membiara adalah sebuah kesaksian bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu ditemukan dalam memiliki banyak hal, tetapi pada sebuah pemberian diri yang penuh dan utuh bagi Tuhan dan sesama. Mungkin di mata dunia, lorong yang ia pilih itu tampak sunyi dan bahkan terlihat menakutkan, tetapi bagi dia yang berjalan didalamnya bersama Tuhan, lorong itu sebenarnya penuh makna; penuh kasih; penuh pelayanan dalam cinta; penuh berkat dari tangan terurap dan penuh cahaya yang tidak selalu terlihat oleh mata manusia. Tuhan sendiri memanggil dia berjalan bersama-Nya dilorong yang sunyi itu, maka Tuhan pula yang menuntun langkah itu hingga penghujung yang penuh makna. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar