KOTA KENARI DI FASE TIDAK BAIK-BAIK SAJA
Ini hanyalah sebuah tulisan kecil tentang situasi dan keadaan kita orang Alor saat ini dan disini, yang berangkat dari beberapa peristiwa tragis/mengerikan dan sungguh memperihatinkan. Semacam catatan buram yang telah terjadi ditanah kota kenari, dan membutuhkan sebuah kekuatan kesadaran untuk direnungkan dan berbenah. Pada situasi saat ini, kita seakan berada di putaran fase tidak baik-baik saja, sebuah fase terendah dari peradaban kehidupan kebersamaan kita ditanah tercinta ini. Pada fase ini semua kita diajak untuk berhenti sejenak dalam sebuah permenungan atau perefleksian untuk melihat kembali jejak yang pernah dilewati dan melihat kembali gambaran kebersamaan kita di pulau seribu Moko ini. Semua kita pasti setuju bahwa tidak bisa membiarkan fase ini berlanjut dan bahkan semacam sebuah budaya yang tetap hidup di tanah kota kenari, karena kita banyak berharap bahwa hidup ditanah ini harus dipelihara baik-baik, bahwa generasi kita bertumbuh dan berkembang dengan kualitas yang berpotensi membangun daerah ini kedepan lebih baik dan maju, kita berharap keadaan hidup bersama terasa aman, damai dan bebas dari rasa takut, kita berharap pulau dengan segudang keindahan tetap menjadi kebanggaan kita bersama. Inilah nurani terdalam dari setiap kita ketika mencermati atau melihat situasi terkini yang terjadi disekitar kita.
Mantan bupati Bapak Amon Djobo dalam setiap hajatan (berbicara pada moment resmi maupun moment syukuran) beliau seringkali melontarkan sebuah slogan pribadi, yang bagi beliau adalah gambaran atau cerminan budaya kita orang Alor dan juga tentang keadaan di kota Kenari. Beliau mengatakan bahwa ALOR ADALAH SURGA DI TIMUR MATAHARI, TANAH TERJANJI DAN BUMI PERSAUDARAAN. Sebuah nada penuh makna ketika beliau menggambarkan Alor dalam bingkai antropologis-sosiologis-teologis, yang paling tidak menempatkan Alor pada tempat yang sungguh amat mulia dan bermartabat. Surga di Timur Matahari menggambarkan alam, tempat segala sesuatu mengalir dan berjalan sesuai kehendak-Nya; Tanah Terjanji menggambarkan kekayaan alam yang sungguh berlimpah dan memberi hidup bagi penghuninya, tempat DIA memberi segala sesuatu yang baik melalui kekayaan alam demi kelangsungan hidup; Bumi persaudaraan menggambarkan suasana hidup penuh perhatian, toleransi, gotong-royong dan hubungan yang harmonis antar sesama. Inilah sebuah gambaran terdalam dan bermakna dari slogan yang selalu dan sering disampaikan oleh Bapak Amon Djobo.
FASE TERENDAH
Dari dulu sejak ada dan terjadinya, pulau Alor ini dikenal dengan tanah yang kaya; kaya alamnya, kaya bahasanya dan kaya adat istiadatnya, dan manusia hidup dalam Kekayaan spiritualnya. Kekayaan ini menyimpan diam di relung terdalam ditanah ini dan selalu memberi hidup bagi penghuninya. Laut yang luas dengan memancarkan alamnya yang begitu indah dan mempesona; semangat persaudaraan dan kekerabatan begitu hidup ditanah ini, semacam surga kecil ditanah ini. Namun saat ini tanah tercinta kenari berada pada fase terendah; boleh dibilang di fase terburuk. Sedikit mengalami perubahan di fase ini karena menjadi tempat yang dipenuhi ketakutan ketika perilaku merusak, kebencian dan rasa dendam serta tindakan pembunuhan mulai merusak sendi kehidupan masyarakat. Dimasa seperti ini, rasa ketenangan dan keamanan terganggu dan perlahan hilang. Orang-orang mulai saling curiga, konflik kecil berubah menjadi pertikaian yang besar, dan emosi lebih banyak dipilih dari pada musyawarah. Perilaku merusak bukan hanya menghancurkan fasilitas atau lingkungan, tetapi juga menghancurkan kepercayaan antarwarga. Ketika nyawa manusia tidak lagi dihargai maka yang hancur bukan hanya individu melainkan juga masa depan sebuah daerah. Di dalam fase terendah ini pendidikan melemah, ekonomi menurun, lingkungan terganggu dan masyarakat semakin jauh dari kehidupan yang aman dan damai.
Budaya yang selama ini menjadi kebanggakan mulai memudar. Nilai adat yang mengajarkan penghormatan terhadap sesamanya diganti oleh ego dan kekerasan. Persaudaraan yang dahulu kuat perlahan retak karena kepentingan pribadi dan konflik yang tidak diselesaikan dengan hati dingin. Ketika pembunuhan terjadi, luka yang ditinggalkan tidak pernah selesai hanya dengan waktu. Keluarga kehilangan anggota, rasa dendam tersimpan bertahun-tahun, ada emosi dan kejengkelan yang tidak selesai oleh putaran waktu, dan masyarakat kehilangan rasa kemanusiaan.
Fase terendah sebuah daerah tidak hanya diukur dari sisi kemiskinan dan keterbelakangan, tetapi ketika manusia mulai kehilangan hati nurani. Saat perilaku merusak dan membunuh dianggap biasa maka daerah itu sedang dalam kehancuran kesejatian moral. Dalam fase terendah ini nilai-nilai baik seakan jauh dari kehidupan bersama. Ketakutan dan kebencian menjadi budaya baru seolah hidup didaerah ini.
Tetapi dibalik semua peristiwa kelam dan tragis yang sedang terjadi ditanah seribu Moko ini, masih ada niat baik dan harapan dari kita semua untuk berbenah. Kita semua pasti memiliki harapan yang sama bahwa fase terendah dan terburuk ini cepat berlalu dan dilewati, sehingga suasana hidup bersama dalam damai kembali menemukan jalannya.
Perubahan hanya bisa lahir ketika masyarakat memilih untuk kembali pada nilai kemanusiaan, adat, persatuan dan penghargaan terhadap hidup. Sebab sebuah daerah tidak akan hancur hanya karena alam semata, tetapi karena manusia yang berhenti menjaga diri dan sesamanya. Mari bersama kita jaga daerah ini, agar Alor memiliki martabat dihadapan Tuhan dan daerah lain. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar