KUNJUNGAN PENUH KEHANGATAN DAN HARAPAN

Anugerah dan cinta Tuhan  sungguh luar biasa, bekerja melalui semua peristiwa hidup manusia. Dalam setiap peristiwa itu terjadi dan mengalir seirama rencana dan kehendak-Nya sendiri, tanpa disadari dan dipahami secara tuntas oleh manusia. Dia ada dan selalu hadir dalam setiap moment, baik lewat karya maupun perjumpaan. Di dalam karya dan perjumpaan itulah manusia sungguh merasakan betapa Tuhan itu baik dan penuh kasih. 
Dengan inilah yang mendorong saya coba menulis sesuatu sebagai sebuah cerita tentang kisah dan peristiwa yang dialami dan menjadi sebuah anugerah besar dari Tuhan bagi para suster dari konggregasi Penyelenggara Ilahi (Sisters Of Divine Providence) dalam kunjungan ke rumah para calon suster di pulau Alor. 
Dalam kehendak dan rencana Tuhan, suster dari konggregasi Penyelenggara Ilahi (sisters Of Divine Providence) bertemu dan menyapa keluarga calon suster yang berada di Alor, khususnya di Paroki St. Yakobus Rasul-Bukapiting- Alor. Sr. Ana, PI mendapat tugas dari pimpinan konggregasi untuk bertemu dengan keluarga dari  calon suster, sebuah tugas sederhana tapi penuh makna. Tugas ini juga merupakan sebuah kesempatan untuk membangun sebuah relasi yang lebih dekat dengan keluarga yang telah mendukung putri mereka memulai sebuah perjalanan panggilan dalam hidup bhakti. Sr. Ana, PI memahami bahwa keluarga memiliki peran dan dukungan yang sangat penting dalam perjalanan panggilan seorang calon suster. Dukungan, doa dan pengorbanan keluarga menjadi fondasi yang membantu seorang calon bertumbuh dalam iman dan kesetiaan kepada Tuhan. 
Setelah menerima tugas dari  pimpinan, Sr. Ana, PI bersama seorang bruder dari konggregasi CSA (konggregasi bruder-bruder Santo Aloysius Gonzaga) dan seorang awam menuju ke Alor untuk bertemu dengan keluarga calon suster. Atas tugas yang dipercayakan oleh pimpinan konggregasi Penyelenggara Ilahi, Sr. Ana harus berangkat menuju Alor dengan menggunakan kapal cepat. Perjalanan dengan menggunakan kapal laut, bagi dia merupakan sebuah pengalaman baru dan pertama dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang suster. Dalam hatinya ia merasa sedikit gugup karena perjalanan ini cukup jauh, dengan menempuh waktu perjalanan dari Kupang menuju Alor selama tujuh sampai delapan jam perjalanan dilaut. Ketika kapal bergerak meninggalkan pelabuhan, Suster Ana memandang luasnya laut yang membentang tanpa batas. Keindahan ciptaan Tuhan, membuatnya semakin bersyukur walau ini adalah perjalanan pertama dan baru. Perjalanan ini juga menjadi kesempatan baginya untuk merenungkan panggilan hidup membiara.
 Bahwa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup merupakan rencana Tuhan terbaik bagi setiap orang, dan baginya ini adalah sebuah perjalanan yang sungguh bermakna karena bukan saja sekedar bertemu dengan keluarga calon melainkan juga ingin tahu lebih dekat tentang kehidupan calon Suster dan keluarganya. 
Setelah melewati lintasan laut dalam tujuh jam perjalanan, akhirnya tiba juga di pelabuhan kalabahi-Alor. Mereka dijemput menuju paroki St. Yakobus Rasul-Bukapiting- Alor (SAYORA) untuk nginap disana. Paroki St. Yakobus Rasul adalah salah satu paroki di Kabupaten Alor,  terletak dibagian timur pulau Alor tepatnya di Kecamatan Alor Timur Laut. 
Suasana pertemuan dan perjumpaan Sr. Ana dan para pastor di paroki SAYORA menghadirkan suatu sukacita dan persaudaraan yang sungguh mengesankan, karena salah satu pastor di paroki itu adalah sahabat lama dari Sr. Ana yang sudah sekian tahun tidak bertemu. Saling berbagi cerita dalam nuansa kekeluargaan dan persaudaraan menjadikan moment saat itu bermakna, terutama sebagai bagian dari sebuah ziarah Bhakti untuk saling meneguhkan dan menguatkan. Malam perjumpaan itu dilewati dengan saling berbagi cerita tentang banyak hal, salah satu topik pembicaraan malam itu berkaitan dengan panggilan hidup bhakti, maklumlah di Paroki SAYORA belum banyak orang yang terpanggil untuk menghayati hidup khusus sebagai seorang biarawan dan biarawati. 
Keesokan harinya setelah selesai mengikuti misa pagi, Sr. Ana bersama bruder dan seorang awam ditemani pastor paroki, berkunjung sekaligus bertemu dengan calon suster dan keluarganya. Sambutan hangat penuh persaudaraan dari anak calon suster dan keluarganya membuat semua rasa lelah karena perjalanan seakan hilang dan diganti dengan sukacita penuh makna persaudaraan. 
Sambutan anak calon dan keluarga yang penuh keramahan dan persaudaraan mencerminkan budaya kekeluargaan yang masih sangat kuat. Suasana perjumpaan itu menjadi akrab karena dihiasi dengan senyuman, sapaan dan percakapan yang ramah dan sederhana tetapi menyimpan sejuta makna mendalam. Setelah melewati moment sapaan dan percakapan seadanya, Sr. Ana mulai menyampaikan maksud kedatangannya kepada keluarga dan calon Suster. Ia memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan salam hormat dari pimpinan konggregasi. Ia lalu menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan ingin mengenal keluarga calon suster, mendengarkan harapan mereka, memperkenalkan konggregasi Penyelenggara Ilahi, menyampaikan spiritual hidup konggregasi serta memberikan peneguhan mengenai panggilan hidup membiara yang akan dijalani oleh putri mereka. 
Dalam kunjungan itu, sebagian besar keluarga dari calon berkumpul sebagai bentuk dukungan dan pemberi semangat bagi putri mereka. Ada banyak cerita yang terpatri dalam kunjungan tersebut, sebuah moment mempererat hubungan antara keluarga calon dan pihak konggregasi yang diwakili oleh Sr. Ana. Suasana keakraban dalam kunjungan itu sangat terasa dan membekas, tanpa disadari suasana ini berlanjut hingga sore hari. Sebelum berpamitan dengan keluarga, ada sesi foto bersama Sr. Ana, bruder dan semua anggota keluarga calon yang sempat hadir. Selesai sesi foto bersama, Suster berpamitan dengan keluarga dan pulang ke Paroki. Keesokan harinya suster bersama bruder dan seorang awam, berpamitan kembali ke Kupang untuk menjalani rutinitas hariannya di komunitas penyelenggara Ilahi. Tuhan memberkati dan sayang kita semua. (Alfons H).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MISA DI KAPELA MARITAING