MEMPERTAHAN IMAN DITENGAH MAYORITAS
Sebuah perjalanan iman yang dipertahankan dan dihidupi oleh Bapak Fidelis Nahak dan istrinya Herlina Bayang Mau Ribu ditanah Puntaru, Desa Tude - Kecamatan Pantar Tengah, ditengah lingkungan jemaat yang mayoritas protestan. Kisah ini saya ceritakan setelah bertemu dengan mereka pada acara Perayaan Ekaristi Permandian dan sambut Baru untuk pertama kalinya di kampung Puntaru, untuk dua anak mereka yakni yakni Lucia Antonia Nahak dan Felicia Nahak. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang beragama katolik di kampung Puntaru yang notabene hampir semua keluarga disana adalah beragama prostestan. Saya sangat bersyukur punya kesempatan bertemu dengan mereka dan nginap di rumah mereka, walau hanya dua hari disana. Tetapi dalam dua hari ini ada sesuatu yang indah dan luar biasa bagi saya dalam mencermati kehidupan iman dari keluarga ini dan inilah sebuah inspirasi iman sejati bagi semua kita.
Bapak Fidelis Nahak sendiri berasal dari Malaka dan beragama katolik, sedangkan istrinya Herlina Bayang Mau Ribu berasal dari kampung Puntaru dan beragama protestan. Profesi keduanya adalah guru, yang mengajar di Desa Tude. Melalui sakramen pernikahan, si istri memilih mengikuti agama suaminya di Katolik, dan mereka menetap di Puntaru karena mereka memilih untuk bekerja dan mengajar di desa tersebut. Sejak tahun 2014 pasangan ini menetap disana dan kini dikaruniai tiga orang anak, semuanya dibaptis dalam agama Katolik.
Dari perjalanan hidup dan karyanya serta keimanannya maka bagi seorang Fidelis Nahak, iman bukanlah sekedar identitas yang tercantum dalam dokumen resmi atau tradisi yang diwariskan dari orang tua. Iman adalah bagian dari hidup yang harus dijalankan setiap hari melalui kesaksian nyata dalam kehidupan bermasyarakat; iman adalah nafas kehidupan yang harus di pertahankan, diperjuangkan dan dihidupi dalam keseharian. Di tengah kondisi yang tidak selalu mudah bagi umat katolik yang jumlahnya sedikit, beliau menunjukan bahwa kesetiaan kepada Tuhan dapat diwujudkan melalui ketekunan dan kesaksian tentang cinta kasih baik pada Tuhan maupun pada sesama.
Menjalani hidup sebagai bagian dari komunitas minoritas seringkali menghadirkan tantangan tersendiri. Kesempatan untuk mengikuti kegiatan kerohanian secara rutin tidak selalu tersedia, tempat ibadat tidak ada dan imam jarang berkunjung kesana. Namun keadaan tersebut tidak membuat Bapak Fidelis dan Mama Herlina kehilangan semangat dalam mempertahankan imannya, sebaliknya dalam situasi dan keadaan inilah yang membuat iman mereka semakin kokoh dan teguh.
Dalam keseharian bapak Fidelis dan Mama Herlina dengan tenang, tekun dan berusaha tetap menjaga warisan iman yang telah mereka anut dan mereka hidupi bersama. Mereka menyadari bahwa keberlangsungan iman tidak hanya bergantung pada kehadiran bangunan gereja atau banyaknya umat, melainkan juga pada komitmen pribadi untuk tetap setia pada ajaran Kristus dalam gereja katolik. Melalui doa-doa pribadi dalam keluarga dan juga keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat, mereka menghadirkan nilai-nilai Injil di lingkungan tempat tinggal mereka.
Satu hal menarik dari perjalanan hidup mereka ini adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara kesetiaan pada iman katolik dan penghormatan dan penghargaan terhadap saudara-saudari protestan yang hidup berdampingan dengan mereka. Mereka tidak melihat perbedaan sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai kesempatan untuk menunjukan semangat kasih dan persaudaraan. Dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan mereka tetap aktif berpartisipasi, bekerja sama dengan semua pihak demi kebaikan bersama. Sikap ini mencerminkan pemahaman bahwa iman yang kuat tidak melahirkan sikap eksklusif tetapi justru mendorong seseorang untuk semakin menghargai sesama.
Kesetiaan dan ketaatan iman bapak Fidelis dan Mama Herlina menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama bagi keluarga-keluarga yang hidup di tengah minoritas dan juga bagi kaum generasi muda. Di tengah perkembangan zaman yang seringkali membuat orang mudah goyah dalam keyakinan, teladan mereka menunjukkan bahwa iman membutuhkan keteguhan dan pengorbanan. Mereka telah membuktikan bahwa menjadi minoritas bukanlah alasan untuk merasa kecil dan minder. Sebaliknya ditengah situasi seperti inilah menjadi ladang kesaksian yang memperlihatkan bagaimana seseorang tetap teguh dalam keyakinannya tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain.
Perjalanan hidup iman bapak Fidelis dan Mama Herlina di kampung Puntaru mengajarkan bahwa kekuatan iman tidak diukur dari jumlah pengikut atau besarnya komunitas, melainkan dari kesetiaan seseorang dalam menjalani panggilannya sebagai orang beriman. Di tengah mayoritas jemaat protestan, mereka tetap berdiri teguh sebagai umat katolik yang setia, sembari terus membangun hubungan yang harmonis dengan semua orang disekitar. Keteguhan itu menjadi bukti bahwa iman yang hidup akan selalu menemukan cara untuk bertumbuh, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan dan keterbatasan.
Kisah kehidupan iman bapak Fidelis dan mama Herlina adalah kisa tentang kesetiaan, ketekunan, kesabaran dan persaudaraan. Melalui hidup mereka, kita belajar bahwa perbedaan tidak harus melahirkan perpecahan. Sebaliknya dengan landasan iman yang kokoh dan hati yang terbuka, perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, saling menghormati dan bersama-sama membangun masyarakat yang damai. Semoga dengan teladan hidup mereka menjadi inspirasi terindah dan bermakna bagi semua kita dalam ziarah kehidupan iman kita. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar