RASA ITU TERSIMPAN DALAM NURANI

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa diuraikan atau dijelaskan dengan kata-kata. Tentang hujan yang turun dari langit, tentang matahari yang terbit setiap pagi dan menerangi bumi, tentang sebuah perjalanan yang ketempat yang jauh, tentang alasan seseorang tersenyum ketika mendengar Khabar baik, tentang sebuah pertemuan yang meninggalkan cerita indah, tentang nelayan yang mencari ditengah lautan pada malam hari dan tentang seorang bayi yang menangis karena lapar. Tetapi juga ada hal-yang sulit diuraikan atau diungkapkan dalam kalimat yang indah sebagai penggantinya, bahkan kepada diri sendiri pun sulit memahami dan dipahami, seperti tentang rasa yang walau ada bergejolak dalam diri tetapi sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata indah sebagai perwujudan dari suasana terdalam dari apa yang sedang dirasakan. Dan itulah rasa, walau ada dalam diri tapi sulit untuk diungkapkan. 
Demikianlah suasana bathin yang kini dirasakan oleh Peter, seorang pegawai yang sedang bekerja pada sebuah instansi pemerintahan. Setiap pagi Peter selalu lebih awal datang ke kantor, bukan karena ia seorang pegawai yang rajin, bukan pula karena takut terlambat, tetapi karena ada alasan lain yang ia sendiri pun tidak mengerti kenapa harus begitu pagi ia ke kantor. 
Sejak kehadiran Dina dikantor itu, membuat Peter merasa ada sesuatu yang selalu mengganggu perasaannya. Sebuah rasa yang tidak pernah ia rasakan atau alami selama bertugas di kantor itu. Kehadiran Dina membuat seluruh hidup dan tugasnya berubah drasatis, yang sejak awal ia melihat Dina sebagai sosok yang biasa saja, tetapi seiring berjalannya waktu, hal yang biasa saja itu berubah jadi sesuatu yang luar biasa dan sangat mengganggu nuraninya disetiap hari. 
Dina bukanlah seorang pegawai yang menonjol dikantor itu, bukan pula sosok yang menjadi pusat perhatian. Ia adalah perempuan yang tidak suka berbicara keras dan kasar pada siapapun dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja daripada mencari perhatian dengan orang lain. Namun dibalik semua pembawaan pribadinya yang begitu sederhana dan kalem itulah membuat Peter mengagumi dan tertarik dengannya. 
Awalnya hanya rasa kagum biasa. Ia menyukai cara Dina berbicara dengan sopan, cara Dina tersenyum ketika menyelesaikan sebuah pekerjaan dan cara Dina tetap tenang saat menghadapi masalah yang membuat orang lain panik. Dari rasa kekaguman itu membuat Peter berusaha untuk mengenal Dina lebih jauh. Dan tanpa ia sadari, rasa ingin mengenal berubah menjadi sebuah perasaan yang lebih mendalam. 

Menjadi persoalan ialah bahwa Peter bukanlah tipe laki-laki yang mudah mengungkapkan isi hatinya kepada setiap wanita. Ada warna-warni rasa yang bergejolak dalam dirinya, mungkin ia takut ditolak, takut kehilangan kedekatan yang selama ini sudah terjalin dan mengalir dengan normal, takut setelah ia mengungkapkan perasaannya, semua suasana dan keseharian bersama Dina tidak akan sama lagi. Karena itulah Peter memilih diam dan memendamkan rasa dalam diri. 

Peter menjadi seseorang yang selalu ada tanpa pernah meminta untuk diperhatikan. Saat Dina membutuhkan bantuan, ia selalu berusaha memberi pertolongan walau permintaan Dina itu berat sekalipun. Ketika Dina mengalami hari terburuk dalam hidupnya, Peter berusaha membuat suasana menjadi lebih ringan dan tersenyum. Ketika Dina berhasil mencapai sesuatu, Peter ikut merasa bangga dan bahagia walau semua itu Peter simpan dalam dirinya dan berusaha tenang dalam rasa. 

Sebenarnya ada banyak moment yang bisa ia jadikan untuk jujur dengan perasaannya pada Dina; seperti ketika mereka pulang bersama setelah lembur, ketika mereka berdua singgah diwarung makan untuk menikmati makan siang, ketika mereka dua ditugaskan atasan untuk mengerjakan sesuatu bersama. Namun ketika kesempatan itu datang, semua keberanian yang telah ia kumpulkan dalam diri seolah menghilang begitu saja. 
Ketika Dina mencoba menguji perasaan Peter dengan beberapa pertanyaan penyelidikan, Peter selalu menjawab " aku cuma menganggap mu teman yang baik". Padahal jauh di dalam hatinya, ia ingin mengatakan sesuatu yang lain. 
Waktu pun terus berjalan; hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan dan bulan berubah menjadi tahun, perasaan Peter pada Dina tetap saja ada dan tersimpan rapih dalam diri. Bahkan ada sesuatu yang pasti dan tetap saja bergejolak dari waktu ke waktu yakni rasa itu semakin mendalam. Peter mulai memahami bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus mengungkapkan dan memiliki. Kadang seseorang bisa begitu berarti tanpa pernah menjadi miliknya. Kadang seseorang bisa menjadi alasan tersenyum sekaligus alasan mengapa hati terasa sesak. 
Suatu sore ketika senja menjemput hari diujung waktu, saat mereka sedang menikmati kopi disebuah kedai, Dina bercerita bahwa keluarganya sedang mengenalkan seseorang kepadanya. Seseorang yang dewasa, baik dan memiliki niat serius untuk menjalani hidup bersama. Peter berusaha tenang sambil menyimak semua cerita itu dengan senyum yang dipaksakan dari nurani yang runtuh. Untuk menutup rasa runtuh yang ada dalam hatinya, Pater berusaha memberikan beberapa komentar sebagai bentuk dukungan bagi Dina, tetapi sesungguhnya dia berkomentar dari rerutuhan hari yang berkeping. 
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa waktu tidak akan selalu menunggunya. Bahwa diam terlalu lama juga bisa menjadi sebuah keputusan. Dan setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi. Hati runtuh akibat cerita Dina sore itu menjadi sebuah pelajaran berharga bahwa alam merekam semua rasa dalam diri, tetapi alam tidak bisa membawa rasa itu dan menyampaikannya pada seseorang dengan sendirinya, melainkan membutuhkan sebuah ungkapan dari nurani agar alam mendengarkan semua itu. 

Malam itu Peter kembali kerumah dengan suasana bathin yang sungguh amat terganggu. Ia berusaha tenang dan coba membuka layar ponselnya sambil melihat foto-foto kebersamaan mereka sebagai teman. Dari sudut terdalam nuraninya, foto-foto itu biasa saja tetapi disitulah tersimpan rapih semua rasa yang sedang dia alami, seakan menyimpan diam semua kenangan kebersamaan walau hanya teman. Peter coba kembali memutar pita perjalanan kebersamaan mereka. Ia berpikir tentang semua hal yang tidak pernah ia katakan, semua semua kalimat yang selalu berhenti diujung lidah, tentang semua kesempatan yang ia biarkan berlalu begitu saja. 

Semua runtuhan rasa ini bukan karena Dina melakukan sebuah kesalahan pada Peter, bukan pula takdir yang tidak berpihak padanya, melainkan ia sadar bahwa dirinya sendiri yang memilih untuk diam. Malam itu Peter larut dalam semua rasa dan kenangan bersama Dina sepanjang perjalanan sebagai teman yang pernah sama-sama melewati. Seakan malam yang penuh gemuruh rasa yang bergejolak dan menghadirkan sebuah kesedihan mendalam direlung jiwa Peter. 
Keesokan harinya ia ke kantor dan bertemu dengan Dina dalam tumpukan pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Dina memandangnya dengan senyuman dan tetap menjadi orang yang sama. Sementara Peter membalas senyum itu dan tetap menyimpan rasa itu dalam hatinya. Bedanya kini ia tidak lagi memendamnya dengan harapan akan memiliki. Ia menyimpannya sebagai bagian dari sebuah perjalanan hidup yang pernah membuatnya merasakan sesuatu yang indah dan mempesona. 

Karena terkadang cinta yang paling sunyi bukanlah cinta yang tidak dihargai dan ditolak, melainkan cinta yang tidak pernah diberi kesempatan untuk diucapkan. Dan diantara jutaan kata yang pernah ia katakan sepanjang hidupnya, ada satu kalimat sederhana yang sampai hari itu  masih tinggal di dalam hatinya; 

"Aku menyukai dan merasakan suatu keindahan dalam dirimu sudah sejak lama dan sangat lama. Hanya saja aku tidak pernah cukup keberanian untuk mengatakannya kepadamu"
(Alfons H)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MISA DI KAPELA MARITAING