SECANGKIR KOPI DAN SECARIK KERTAS
Kopi itu hitam dan pahit
Kertas itu putih dan polos
Pagi selalu memiliki cerita dan caranya sendiri untuk menyapa bumi dan kehidupan. Saat langit perlahan berubah dari gelap menuju terang, udara masih terasa sejuk, dingin kecil masih menemani dan suasana masih tenang. Di sebuah sudut teras rumah yang sederhana, seorang penyair duduk dengan secangkir kopi hangat dihadapannya. Asap tipis yang mengepul dari cangkir itu seolah menjadi teman setia yang menemani awal harinya.
Dengan perlahan ia menyeruput kopi tersebut seteguk demi seteguk. Rasa pahit yang berpadu dengan aroma khas kopi memberikan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata dan sungguh amat nikmat ketika mengalir pelan melewati saluran kerongkongan menuju kedalam tubuh. Itulah cerita pagi sang penyair yang hendak menulis disederatan baris putih pada lembaran yang polos. Kehangatan kopi membangkitkan semangat membarah dalam tubuh sang penyair untuk menulis.
Diraihnya pena diatas meja kecil itu dan ia mulai menulis berbagai hal yang ada dalam pikirannya. Ada cerita tentang pengalaman hidup, harapan-harapan yang ingin diwujudkan dan berbagai refleksi sederhana yang seringkali terlupakan ditengah kesibukan sehari-hari. Pena ditangannya mulai menari pelan diatas lembaran putih itu, kata demi kata mengalir begitu saja, seakan roh sedang bekerja dengan pasti dalam otaknya, seolah pagi yang tenang memberikan ruang bagi hatinya untuk berbicara dalam diam lewat tarian pena yang menggores lembaran itu hingga sebuah kalimat indah setara kopi yang memberi kenikmatan pada sang penyair.
Tapi baginya menulis bukan saja sekedar merangkai kalimat. Menulis adalah cara untuk mengenal diri sendiri, memahami berbagi peristiwa yang telah dilalui dan menemukan makna dibalik setiap pengalaman. Disaat dunia masih belum ramai, sang penyair merasa lebih mudah mendengarkan suara hatinya. Secangkir kopi menjadi sahabat yang menemani ia dipagi itu untuk menemukan sebuah makna terdalam dan terindah dari hasil pikiran yang tertuang diatas secarik kertas.
Itulah proses berpikir dan menulis sang penyair. Sesekali ia berhenti sejenak mengurai dan merangkai kata dalam pikirannya sebelum menuangkannya pada secarik kertas, ia memandang sekeliling dan menatap bunga ditengah taman itu sekedar menarik sejumlah inspirasi berkaitan dengan isi tulisan itu. Bagi sang penyair menulis adalah sebuah kebahagiaan bathin ketika apa yang telah dirangkai dalam kalimat itu akan menghasilkan sesuatu yang sungguh amat berguna.
Sudut teras itu menjadi saksi bisu yang sedang menemani dan menyaksikan sang penyair menuangkan ide. Ide-ide yang sederhana tapi sungguh amat membekas dan akan menjadi sebuah cerita tentang sang penyair menulis. Pagi itu juga yang mengajarkannya bahwa hidup tidak harus selalu berjalan cepat. Ada saatnya seseorang berhenti sejenak, menyimak dan menikmati apa yang ada dihadapannya, lalu mensyukuri setiap berkat yang telah diterimanya. Dari secangkir kopi dan secarik kertas, lahirlah rasa damai yang memperkaya hati.
Ketika secangkir kopi mulai kosong dan halaman-halaman lembaran mulai terisi tulisan, ia tersenyum kecil dengan rasa bangga dan bahagia. Dia kembali menyadari bahwa matahari telah menerangi bumi, mengajak sang penyaybergegas pergi dari sudut teras itu untuk memulai sebuah kisah yang harus ia jalani lewat karya haru itu. Secangkir kopi pagi berpadu dalam goresan pena diatas secarik kertas dan hati yang terbuka untuk menulis telah menghasilkan kebahagiaan terdalam. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar