SEJENAK MENEPI DI UJUNG WAKTU
Hidup itu berjalan dan berputar mengikuti irama waktu yang menghantarnya. Hari-hari berlalu tanpa terasa, menghantar dan membawa kita dari satu kesibukan ke kesibukan yang lain. Pekerjaan, tanggung jawab, harapan dan berbagai persoalan silih berganti memenuhi pikiran. Dalam perjalanan yang panjang itu, sering kali kita lupa memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam dan memandang kembali arah langkah yang sedang ditempuh.
Diujung waktu yang terus bergerak, ada saat-saat ketika seseorang memilih untuk menepi. Bukan karena menyerah pada keadaan, bukan pula karena kehilangan semangat, melainkan ingin menemukan kembali ketenangan yang mungkin telah lama hilang. Menepi adalah kesempatan untuk mendengarkan suara hati yang selama ini tertutup oleh hiruk pikuk kehidupan.
Disitu sore yang tenang, ketika matahari perlahan turun menuju cakrawala, seseorang duduk sendiri memandang langit yang perlahan membuat bumi jadi gelap. Angin berhembus lembut, membawa kesejukan yang menyentuh tubuh. Dalam keheningan itu, berbagai kenangan datang silih berganti. Ada cerita tentang perjuangan, kegagalan, kebahagiaan, dan juga tentang luka yang pernah menggores dan melukai perjalanan hidup. Semua hadir dalam pikiran tanpa diundang, seakan ingin mengingatkan bahwa setiap peristiwa memiliki makna yang membentuk dirinya hingga hari ini.
Sejenak menepi diujung waktu mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang berlari mencapai tujuan. Hidup juga tentang menghargai proses, mensyukuri setiap peristiwa dan kisah, serta berusaha menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya kita perlu berhenti untuk memahami bahwa beberapa jawaban hanya dapat ditemukan dalam keheningan. Dalam saat-saat seperti itu, hati belajar untuk berdamai. Berdamai dengan masa lalu yang tidak bisa diubah, berdamai dengan harapan yang belum bisa tercapai dan berdamai dengan kenyataan yang terkadang tidak sesuai impian. Dari kedamaian itulah lahir kekuatan baru untuk melanjutkan perjalanan. Sebab seseorang yang mampu berdamai dengan dirinya sendiri akan lebih teguh dan kokoh menghadapi hari esok.
Menepi juga mengingatkan bahwa waktu adalah anugerah yang tidak bisa kembali. Di setiap detik yang telah berlalu selalu membawa makna dan pelajaran berharga dalam menyusuri lorong-lorong kehidupan. Oleh karena itu jangan biarkan hidup hanya diisi dengan penyesalan atau kekhawatiran yang berlebihan. Pakailah waktu untuk memaafkan, mencintai, berbagi kebaikan dan mensyukuri setiap berkat yang masih diberi Sang Pencipta.
Ketika senja mulai redup dan malam mulai menyelimuti langit, seseorang itu bangkit dari tempat duduknya dan bergegas kembali rumah. Kini hatinya terasa lebih ringan. Mungkin tidak semua persoalan telah selesai, tetapi ia telah menemukan ketenangan untuk menerimanya. Ia sadar bahwa perjalanan masih panjang dan waktu akan terus berjalan. Namun kini ia melangkah dengan keyakinan baru, membawa harapan yang lebih jernih dan semangat yang lebih kuat.
Sejenak menepi di ujung waktu bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru dari tempat itulah seseorang menemukan keberanian untuk memulai kembali. Dalam keheningan, ia belajar untuk memahami hidup. Dalam kesunyian ia menemukan makna. Dalam setiap detik yang tersisa, ia menyadari bahwa hidup adalah anugerah yang layak dijalani dengan ketulusan, kesabaran, harapan dan rasa syukur.
Akhirnya menepi di ujung waktu untuk menemukan dengan sesungguhnya arti sebuah perjalanan hidup. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar