SAAT BERADA DI TITIK TERENDAH


Aku menulis ini sebagai sebuah permenungan pribadi ketika diri berada pada posisi yang paling terendah dalam hidup. Bukan soal jabatan atau kedudukan, bukan soal popularitas atau terkenal, bukan soal ketiadaan apa-apa, tetapi soal sebuah perjalanan hidup. Perjalanan yang singgah pada sebuah tikungan dan persimpangan jalan, yang memaksa harus sejenak diam untuk memilih sebuah jalur untuk meneruskan perjalanan. 

Ada saat dalam perjalanan hidup ketika langkah terasa begitu berat untuk mengayun pergi. Senyum yang biasanya menjadi teman sepanjang hari dan mudah terukir, berubah menjadi keheningan, bahkan diri terkurung dalam wajah yang lesu  Hati dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Seolah-olah dunia berjalan seperti biasa, tetapi didalam diri sedang terjadi gonjangan dan badai dahsyat yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Itulah saat seseorang berada di titik terendah dalam hidup. 

Titik terendah bukan tanda bahwa hidup telah berakhir. Justru manusia belajar untuk mengenal dirinya dengan lebih jujur. Kesuksesan seringkali membuat kita percaya bahwa kita kuat, tetapi kegagalan mengajarkan bahwa kita justru sangat membutuhkan Tuhan, keluarga dan sahabat. Air mata yang jatuh bukanlah lambang kelemahan melainkan sebuah ungkapan hati yang sedang berjuang agar tidak putus asa dan mudah menyerah. 

Pada masa-masa hati terasa demikian, harapan sering tampak begitu jauh dari jalan hidup kita. Doa terasa kering dan hampa, usaha seakan tidak membuahkan hasil dan pintu-pintu yang diharapkan terbuka justru tertutup satu demi satu dan kita pun butuh untuk terus berjalan di kehidupan ini. Namun dibalik semua itu, kehidupan juga mengajarkan bahwa malam yang paling gelap selalu mendahului terbitnya fajar. Tidak ada penderitaan dan luka tetap berada selamanya, selalu ada dan punya waktu untuk sembuh dari luka dan keluar dari jerat penderitaan. Selalu ada waktu ketika Tuhan menghadirkan diri dan terang-Nya  dengan caranya yang mungkin dan tidak pernah kita duga. Dalam diamnya, Tuhan sedang memandang dari jauh tentang diri dan nasib kita, dan DIA akan hadir pada saatnya. 

Seringkali di titik terendah justru menjadi tempat dimana karakter dibentuk dan pola pikir diubah serta cara kerja kita diperbaiki. Kesabaran ditempah, kerendahan hati diperdalam dan iman dimurnikan. Dari pengalaman itulah kita mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk bangkit dan berjalan. Luka akan menjadi sembuh, ketermurungan akan berubah jadi keceriaan dan semangat, kebuntuan jalan akan menemukan jalannya dan kepahitan hidup akan berubah jadi senyum dan tawa.

Karena itu ketika hidup terasa begitu berat, janganlah cepat putus asa dan kehilangan harapan. Teruslah melangkah meskipun perlahan, berdoalah meski hati terasa tidak bersahabat dan hanya mengucap sepenggal kata sebagai ungkapan rasa. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Ia hadir ketika air mata itu jatuh membasahi tubuh, Ia akan menopang disetiap perjuangan dan mendampingi disetiap langkah yang paling kecil dan tertatih-tatih. Percayalah bahwa Tuhan selalu dan senantiasa ada bersama, dan yakinlah DIA akan mengubah segalanya menjadi sebuah mukjizat. 

Pada akhirnya kita akan menyadari bahwa titik terendah bukanlah akhir dari sebuah ziarah perjalanan hidup. Ia hanyalah sebuah persinggahan yang mengajarkan arti keteguhan, kesabaran, kesetiaan dan pengharapan. Dari lembah yang dalam, kita menghargai puncak, dari kegelapan kita belajar mensyukuri cahaya, dan dari luka kita belajar untuk menyembuhkan. Tuhan tidak pernah menjanjikan sebuah jalan mulus bagi setiap orang, tetapi Tuhan menyediakan jalan terjal agar kita belajar untuk melewatinya dengan keberanian agar satu saat kelak kita paham bahwa Tuhan sungguh amat baik dan bahwa kita dituntut untuk tidak berhenti percaya. (Alfons H).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MISA DI KAPELA MARITAING