DIBALIK KUNJUNGAN SR. ANA, SDP


Pagi itu mentari menyapa bumi dengan lembut dan terasa sejuk. Langkah Sr. Ana menapaki jalan sederhana menuju rumah calon suster. Bukan sekedar perjalanan menuju sebuah rumah, melainkan sebuah misi penuh kasih, dalam bingkai panggilan hidup bhakti. Langkah itu terus mengayun hingga tiba dirumah, tempat tumbuh benih panggilan yang akan dipelihara hingga kekekalan. 

Dibalik pintu rumah yang terbuka, senyum hangat keluarga menyambut kedatangannya. Sapaan yang sederhana dan ramah terasa begitu indah dan terasa. Seolah-olah setiap kata adalah untaian doa yang menghubungkan hati Sr. Ana dan keluarga. Rumah itu bukan saja sebuah bangunan tempat tinggal keluarga, melainkan tempat dimana benih panggilan hidup bhakti mulai tumbuh dan berkembang dalam bingkai kasih.

Suster Ana duduk bersama calon dan keluarga bercerita dan mendengarkan kisah-kisah hidup yang mengalir apa adanya. Ada tawa yang menghangatkan suasana, ada haru yang menyentuh jiwa dan ada kisah yang akan membekas dirumah itu. Dalam setiap percakapan, terselip keyakinan bahwa Tuhan selalu berkarya melalui orang-orang sederhana yang membuka hati mendengarkan panggilan-Nya. 

Si calon dan keluarga begitu setia mendengarkan, dengan harapan bahwa dibalik kunjungan itu, akan ada harapan yang digenggap dihari esok melalui putri mereka, ada harapan besar tumbuh dalam hati kedua orang tua dan keluarga tentang masa depan yang akan dijalani oleh putri mereka. Tentang ada suara Tuhan yang membidik dinurani terdalam dari si calon; ada kerinduan yang menyimpan diam dalam hati si calon dan keluarga. Tentang sebuah cinta yang tulus melepaskan dengan pemberian yang total pada rencana dan kehendak Allah. 

Cerita berbalut keakraban dan kasih persaudaraan menghiasi seluruh rangkain kunjungan tersebut. Seakan Tuhan sedang menanam benih baik yang akan tumbuh dari dan dalam keluarga yang sederhana. Tuhan ingin pertemuan dalam kunjungan itu adalah moment perjumpaan spiritual yang hangat dan menggetarkan. 

Saat senja mulai menyapa bumi, tibalah saatnya untuk berpamitan. Sr. Ana akan kembali dalam rutinitas harian sebagai kelanjutan karya Allah dalam konggregasi. Ia meninggalkan rumah itu, tetapi membawa pulang sejuta kisah dan kenangan yang telah terukir dirumah itu; kehangatan sebuah keluarga, ketulusan iman, dan harapan yang semakin bertumbuh. 

Kunjungan dan pertemuan itu hanya beberapa jam, tetapi nafasnya akan selalu hidup dan terdengar sepanjang ziarah. Sebab setiap langkah yang ditempuh dalam kasih akan selalu menjadi jejak yang menghantar seseorang semakin dekat dengan Tuhan. 

Semoga perjalanan kunjungan dan perjumpaan Sr. Ana dan calon serta keluarga menjadi benih yang terus bertumbuh, menghasilkan keberanian untuk menjawab panggilan, serta menjadi saksi bahwa disetiap rumah dan perkunjungan, Tuhan selalu ada dan hadir, memanggil, membimbing dan menguatkan. (Alfons H).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUKMU

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MISA DI KAPELA MARITAING