PENA MENEMANIKU MALAM ITU

Malam itu selalu memiliki caranya sendiri untuk menghadirkan keheningan dan makna. Ketika hiruk pikuk kehidupan dunia siang itu mulai mereda, ketika bunyi kendaraan semakin jarang terdengar, ketika senja pamit pergi dan ketika langit dihiasi jutaan bintang, saat itulah pena menemaniku dengan goresannya di malam itu. Dibalik dinding ruangan dan cahaya lampu yang sederhana, pena itu menemaniku menyusuri lorong-lorong pikiran, merangkai kata demi kata yang lahir dari hati.

Pena yang menemani ku bukan sekedar alat untuk menulis, tetapi ia juga menjadi saksi tentang perjalanan hidup, menyimpan kisah tentang suka dan duka, tentang harapan yang belum tercapai serta doa-doa yang tak selalu mampu terucap dari bibir. Setiap goresannya seolah mengeluarkan bongkahan kata dari dalam tubuh, lalu mengubahnya menjadi kalimat yang memberi kelegaan. 

Ada malam-malam ketika hati terasa penuh oleh kegelisahan. Dalam diam, pena mengajakku untuk berdamai dengan diri sendiri. Ia mengingatkanku bahwa setiap peristiwa dalam hidup memiliki ceritanya tersendiri; setiap luka dan air mata memiliki maknanya, setiap kegagalan dan kesuksesan memiliki jalannya tersendiri untuk dihayati. Melalui tulisan, aku belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan. 

Dibalik lembaran-lembaran kertas yang mulai dipenuhi tinta lewat tarian pena, tersimpan kenangan tentang orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku. Ada keluarga yang selalu mendoakan, ada sahabat yang selalu menopang dan menguatkan, dan semua saja yang pernah hadir dalam hidupku dan mengajarkan aku tentang cinta, pelayanan dan kasih yang harus dihadirkan dalam hidup dengan ketulusan dan penuh bijaksana. Semua itu menjadi untaian kata yang menghidupkan kembali rasa syukur atas setiap perjalanan yang pernah dilalui. 

Malam juga mengajarkanku bahwa kesunyian bukanlah musuh, melainkan dalam kesunyian itulah suara hati berbicara dan terdengar dengan lebih jelas. Pena menjadi jembatan antara pikiran dan perasaan, antara harapan dan kenyataan. Ia tidak pernah menghakimi, tidak pernah mengelak, tetapi selalu setia menerima setiap cerita yang ingin kutitipkan. 

Malam juga mengingatkan dan mengajarkan bahwa ketika rasa lelah datang menghampiri, maka pena menjadi teman yang setia. Setiap kata yang terangkai menjadi kalimat, dia menjadi pengingat bahwa hidup selalu bergerak maju. Selama masih ada kesempatan untuk menulis, selama masih ada nafas yang Tuhan anugerahkan, selalu ada alasan untuk berharap, ada kemauan untuk mencintai dan ada niat untuk memperjuangkan kebaikan. 

Maka biarlah malam tetap menjadi ruang perenungan dan pena tetap menjadi teman seperjalanan. Sebab dari ujung pena lahir kisah-kisah yang mungkin sederhana tetapi mampu menyentuh hati. Semoga setiap tulisan yang lahir ditengah sunyinya malam, menjadi catatan pribadi yang bermakna dan selalu dikenang dalam ziarah kehidupan. (Alfons H)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MENYEMBUHKAN LUKA MASA LALU

TERIMA KASIH UNTUKMU