GEREJA DAN SIKAP CUEK UMAT

Setelah sekian tahun menjalani tugas pelayanan di Paroki, saya terperangah dan merasa heran dengan munculnya fenomena sikap cuek umat terhadap kegiatan-kegiatan di Gereja. Saya menulis ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap munculnya fenomena cuek ini dikalangan umat, yang membuat saya kadang bodoh untuk memahami dan seakan terlalu pintar untuk menilai.

Gereja bukan hanya sebagai sebuah tempat untuk beribadah, tetapi juga sebuah persekutuan umat yang dipanggil untuk hidup bersama, saling memperhatikan dan mengambil bagian dalam karya pelayanan. Karena itu keaktifan umat dalam berbagai kegiatan gereja merupakan bagian penting dari kebersamaan hidup menggereja. Namun akhir-akhir ini sebagian umat yang semakin jarang terlibat dalam kegiatan gereja. Salah satu faktor penyebab adalah munculnya sikap cuek atau ketidakpedulian terhadap kehidupan bersama. Ada banyak umat terlalu sibuk dengan urusan duniawi, yang memberi kesenangan sesaat dan semacam mencari pujian dari kegiatan-kegiatan diluar gereja. Ketika ada turnamen, banyak umat yang menguras perhatian dan waktu untuk kegiatan tersebut, ketika ada urusan adat perkawinan, banyak umat berkorban untuk hajatan tersebut, ketika ada pesta, banyak umat yang berbondong kesana walau tidak diundang. Semacam inilah wajah umat saat ini. 

Sikap cuek seringkali terlihat sederhana; tidak hadir dalam kegiatan Kelompok umat basis (KUB), kurang mengikuti doa bersama, tidak terlibat dalam kerja bersama, dan bahkan merasa kegiatan gereja tidak bermanfaat untuk diri dan keluarga. Ada pula yang berpikir bahwa selama masih datang ke gereja pada hari minggu, kewajiban sebagai umat sudah cukup. Padahal kehidupan menggereja tidak berhenti pada kehadiran dalam perayaan Ekaristi. Gereja membutuhkan keterlibatan, perhatian, kepedulian dan kesediaan setiap umat untuk mengambil bagian sesuai dengan kemampuan dan panggilannya. 

Ketidakpedulian yang dibiarkan terus menerus dapat membuat kehidupan komunitas menjadi semakin dingin dan tidak bernafas. Hubungan antar umat menjadi renggang, kegiatan gereja hanya dijalankan oleh orang-orang yang sama, sementara sebagian lainnya memilih menjadi penonton dan tamu dalam gereja. Akibatnya beban pelayanan semakin berat bagi mereka yang aktif dan semangat kebersamaan perlahan tapi pasti akan luntur dan memudar. 

Sikap cuek akhir-akhir ini muncul karena terlalu banyak orang sibuk dengan urusan duniawi yang memberi kesenangan dan popularitas diri baik secara individu maupun secara komunal. Umat lebih banyak mencari sensasi diluar sana ketimbang memberi diri untuk banyak orang dalam kegiatan gereja. Seakan nilai terbesar dan terpenting hanya ditemui dalam turnamen-turnamen, dalam hajatan adat istiadat, dalam hajatan pesta pora. Sementara nilai spiritual diabaikan dan seakan tidak penting untuk hidup. 

Menjadi diri yang sejati bukan saja soal mencari dan mengejar hal-hal duniawi semata, tapi juga menyadari bahwa sesungguhnya hidup itu perlu keseimbangan antara yang jasmani dan rohani, antara duniawi dan surgawi dan keseimbangan antara doa dan kerja. Disitulah letak martabat sesungguhnya sebagai umat yang sejati. Menjadi umat bukan hanya tentang menerima pelayanan tetapi juga tentang kesediaan untuk melayani. Gereja akan semakin hidup ketika umat tidak hanya bertanya, apa yang bisa saya terima dari gereja, tetapi juga berani bertanya apa yang dapat dan bisa saya lakukan untuk gereja dan sesama sebagai persekutuan iman?

Ketidakaktifan atau ketidakpedulian karena sikap cuek mungkin terlihat sebagai persoalan kecil, tetapi jika terus dibiarkan maka dapat melemahkan semangat kebersamaan dalam komunitas. Karena itu diperlukan kesadaran bahwa gereja adalah rumah kita bersama. Setiap umat memiliki tempat, peran dan tanggungjawab didalamnya. Dengan membuka hati, membangun semangat peduli dan aktif, serta mengambil bagian dalam kegiatan gereja, kita bukan hanya menghidupkan kegiatan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat persekutuan sebagai satu keluarga dalam iman dan merasa betah dalam gereja serta menjadikan gereja rumah bersama yang sedang berziarah menuju kekekalan. (Alfons H)


Komentar

  1. Maafkan dan ampuni kami umat mu Tuang,entah itu kami umat yg tulus atau umat yang berpura-pura.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MENYEMBUHKAN LUKA MASA LALU

TERIMA KASIH UNTUKMU