MARI MERAJUT KASIH DAN KEBERSAMAAN
Ada satu waktu yang membuat kita harus duduk bersama untuk melihat, merenung dan berdiskusi tentang sebuah perjalanan kebersamaan yang telah kita jalani dan kita lewati bersama diwaktu yang lalu. Dalam duduk bersama itulah kita coba mengurai dan merajut kembali kasih dan kebersamaan demi menata sebuah perjalanan kebersamaan kedepan untuk lebih baik dan lebih indah. Karena sesungguhnya hidup akan terasa lebih indah ketika kita tidak berjalan sendiri-sendiri melainkan berjalan bersama. Kita sangat membutuhkan ada tangan yang menguatkan, ada hati yang memahami dan ada senyum yang mengingatkan bahwa kita adalah bagian dari satu keluarga. Karena itu mari merajut kasih dan kebersamaan, bukan hanya kata-kata tetapi dalam tindakan dan kesaksian tentang kebaikan.
Pada prinsipnya merajut kasih berarti belajar menerima satu sama lain dengan segala kelebihan dan kekurangan, sambil memperbaiki secara bersama tentang sesuatu yang tidak disukai atau yang tidak menyenangkan. Masing-masing kita mungkin memiliki cara berpikir yang berbeda tentang sesuatu, latar belakang yang berbeda, pengalaman hidup yang berbeda dan gaya hidup yang tidak sama. Namun semua itu bukanlah alasan untuk saling menjauh, memisahkan atau bahkan saling memecah belah, melainkan kita terdorong dan diajarkan untuk bagaimana memahami, menghargai, melengkapi dan saling menghidupkan. Merajut kasih yang sesungguhnya harus keluar dari nurani yang ingin hidup bersama, berdamai, rukun, bersatu dan sejahtera. Bentuk nyata dari rajutan itu hendaknya hidup dan nyata dalam setiap kata dan tindakan yang baik.
Sementara itu kebersamaan tidak berarti bahwa kita harus selalu sepakat dalam segala hal. Kebersamaan berarti kita tetap memilih untuk berjalan bersama meski ada perbedaan dan riak-riak kecil yang sering juga muncul dipermukaan. Ketika ada yang lemah, kita menguatkan. Ketika ada yang jatuh, kita mengulurkan tangan untuk membangunkan. Ketika ada yang bersedih, kita hadir untuk menghibur. Dan ketika ada yang berhasil, kita belajar untuk bersyukur dan bersukacita bersama tanpa ada rasa iri hati.
Mari belajar untuk tinggalkan sikap saling mencurigai, menghakimi, menjauh dan tidak peduli karena persoalan-persoalan kecil. Jangan biarkan ego dan kesalahpahaman merusak tali kasih dan kebersamaan yang telah bertahun-tahun tumbuh dan berkembang. Mari bersama membuka hati dan pikiran untuk mencermati setiap peristiwa dengan positif, agar kasih dan kebersamaan tetap hidup. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar