CERITA KECIL DIATAS KAPAL CEPAT
Catatan perjalanan:
Selasa 13 Oktober 2026.
Perlahan kapal cepat mulai meninggalkan bibir dermaga duliono (Alor) dan mengatur haluan untuk siap berlayar menuju pelabuhan Kupang. Suara mesin berpadu dengan riuh air laut yang terbelah oleh badan kapal. Perlahan daratan Alor tampak semakin menjauh, seolah-olah sedang melambaikan tangan dan berpesan agar setiap kenangan dari sebuah perjalanan adalah kisah yang terus dikenang sepanjang hidup.
Di atas kapal mata dimanjakan oleh hamparan laut biru yang seolah tidak berujung. Angin laut menyentuh wajah, membawa aroma khas samudra yang terasa begitu menyegarkan. Sesekali percikan air laut menerpa sisi kapal, menghadirkan sensasi tersendiri yang membuat perjalanan pelayaran terasa lebih hidup. Ditengah luasnya lautan, pikiran yang semula dipenuhi berbagai urusan perlahan mulai tenang.
Posisi duduk dekat jendela kapal menjadi cerita sendiri ketika sedang menikmati perjalanan itu. Memandang bebas pemandangan didaratan sambil pikiran bergerak bebas mengikuti gerak ombak dan tiupan angin. Pulau-pulau kecil yang tampak dari kejauhan menjadi pemandangan yang memikat dan punya cerita tersendiri untuk dikenang. Langit biru, awan putih dan kilauan cahaya matahari dipermukaan laut menciptakan lukisan alam yang begitu mempesona. Seolah Sang Pencipta sedang memperlihatkan kepada manusia betapa luas dan menakjubkan karya tangan-Nya.
Dalam perjalanan itu saya menyadari bahwa hidup pun sesungguhnya menyerupai sebuah pelayaran. Ada saat ketika laut terasa begitu tenang, angin bertiup lembut dan perjalanan terasa begitu tenang. Namun ada saat pula ombak terasa begitu ganas mengamuk, angin bertiup kencang dan perjalanan pelayaran pun terasa menakutkan dan hati belajar bertahan dalam ketidakpastian. Hati dituntut untuk tenang, sabar, dan kuat dalam menghadapi badai kehidupan yang menerpa. Kadang kita butuh hati yang tabah, pikiran yang tenang dan iman yang teguh.
Kapal cepat yang terus membelah lautan mengajarkan bahwa waktu tidak pernah berhenti dan perjuangan pun tidak pernah berakhir. Setiap detik membawa kita semakin dekat pada tujuan, sementara tempat yang kita tinggalkan perlahan menjadi bagian dari kenangan. Begitu pula dalam kehidupan, ada orang-orang yang kita temui, ada tempat yang pernah kita singgah, dan ada pengalaman yang membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Perjalanan dari Alor menuju Kupang dalam sebuah pelayaran tersebut bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi lebih dari itu perjalanan ini menjadi kesempatan untuk sejenak melepaskan diri dari kesibukan, merefleksikan perjalanan hidup, mensyukuri setiap pengalaman dan menyadari bahwa masih begitu banyak keindahan yang dianugerahi Tuhan kepada kita. Perjalanan itupun kini tiba tujuan, pelabuhan Kupang menjadi sandaran badan kapal untuk membiarkan para penumpang satu persatu meninggalkan kapal. Demikian juga dengan perjalanan hidup, kita membutuhkan orang lain sebagai sandaran, kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita untuk dapat sampai pada tujuan yang kita cita-citakan.
Akhirnya saya memahami satu hal sederhana yakni bahwa perjalanan yang indah bukan hanya perjalanan yang membawa kita sampai ke tujuan, melainkan perjalanan yang membuat kita belajar dan mampu bersyukur atas setiap kisah atau peristiwa yang kita alami, baik dalam suka maupun dalam keputusasaan.(Alfons H).
Komentar
Posting Komentar