MEMANDANG SENJA
Aku duduk sendiri ditepi pantai itu, menatap senja yang perlahan mulai menghilang, dan bumi sedikit demi sedikit diselimuti gelap. Langit yang semula terang, kini perlahan mulai berubah warna. Jingga menyelimuti ufuk, sementara matahari perlahan-lahan mulai berpamitan, meninggalkan jejak keindahan yang tak mampu ditahan oleh waktu. Dalam keheningan itu ada sesuatu yang terasa begitu mendalam, seolah senja sedang mengajarkan tentang arti kehidupan, kehilangan dan keikhlasan.
Memandang senja dengan sejuta pikiran yang berkelana dalam diam. Ada cerita tentang hari yang telah dilewati, tentang langkah-langkah yang terkadang melelahkan, tentang keputusan-keputusan yang harus dipertahankan dan tentang perasaan yang tak selalu terucapkan dengan kata-kata. Senja menjadi teman bagi jiwa yang ingin beristirahat sejenak dari riuhnya dunia. Di hadapannya tidak perlu berpura-pura kuat, tidak perlu menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Hanya ingin diam, membiarkan waktu berjalan dan membiarkan hati berbicara dalam bahasanya sendiri.
Senja itu selalu datang dengan keindahannya, tetapi ia tidak pernah berjanji untuk tinggal lebih lama. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam hidup memiliki waktunya masing-masing. Ada pertemuan yang menghadirkan kebahagiaan, ada perpisahan yang meninggalkan kesedihan, selalu ada harapan yang tumbuh dan ada juga impian yang harus dilepaskan. Namun sebagaimana matahari yang menghilang bukan berarti cahayanya telah musna. Demikian pula sesuatu yang pergi dari kehidupan tidak selalu berarti kehilangan seluruh maknanya. Terkadang yang telah berlalu justru meninggalkan pelajaran yang membuat kita lebih dewasa dalam memahami kehidupan.
Ketika senja perlahan mulai menghilang, tidak perlu menggenggam erat sesuatu yang memang harus dilepaskan. Maka senja mengajarkan bahwa haruslah belajar melepaskan sesuatu yang harus berlalu. Sebab semakin kita memaksakan sesuatu untuk tetap tinggal, semakin kita menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kuasa kita. Ada hati yang tidak bisa kita paksakan untuk menetap, ada perasaan yang tidak selalu menemukan jawaban, dan ada pelajaran yang harus terus dilanjutkan meskipun kita belum sepenuhnya siap meninggalkan apa yang ada dibelakang.
Memandang senja membuat kita dapat mengerti bahwa keindahan tidak selalu terletak pada sesuatu yang abadi. Terkadang keindahan justru hadir dalam waktu yang begitu singkat, dalam perjumpaan yang sederhana, dalam senyuman yang tulus, dalam percakapan yang membekas, atau dalam kehadiran seseorang yang membuat hari-hari terasa lebih berarti. Walaupun semuanya ini begitu singkat dalam putaran waktu, tetapi ia akan membekas dan memiliki tempatnya tersendiri dalam hati dan kehidupan.
Langit yang perlahan diselimuti kegelapan, ia sedang mengajarkan bagaimana untuk berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua pertanyaan harus segera menemukan jawaban. Tidak semua kegelisahan harus berakhir pada hari yang sama. Ada sederatan hal yang bisa dipahami melalui waktu, doa dan keberanian untuk menerima kenyataan. Sebab hidup bukan hanya tentang mengejar apa yang kita inginkan, tetapi juga tentang belajar bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan, serta mengikhlaskan apa yang ditakdirkan untuk kita miliki.
Senja akhirnya benar-benar menghilang, warna jingga perlahan digantikan oleh gelapnya malam. Namun tidak harus larut dalam kesedihan karena kepergiannya. Percayalah bahwa dibalik setiap senja yang berakhir, selalu ada kesempatan bagi fajar untuk kembali menyapa. Begitu pula dengan kehidupan, setelah ada hari-hari yang berat, pastikan bahwa selalu ada kemungkinan untuk menemukan harapan baru, kekuatan baru dan alasan baru untuk kembali melangkah. Maka biarlah senja pergi bersama semua cerita yang dibawahnya. Biarlah waktu menyimpan kenangan pada tempatnya. Dengan segalah kekuatan dan keberanian tetaplah melanjutkan perjalanan, membawa pelajaran dari hari yang telah berlalu dan menyimpan harapan untuk hari yang akan datang.
Sebab memandang senja yang perlahan menghilang, bukan sekedar menyaksikan berakhirnya sebuah hari, melainkan belajar mengikhlaskan apa yang pergi, mensyukuri apa yang pernah hadir, dan percaya bahwa kehidupan selalu menyediakan ruang bagi harapan untuk tumbuh kembali. (Alfons H)
Komentar
Posting Komentar