SALIB MERAH DALAM SEBUAH DEMO

Ditengah riuhnya sebuah demonstrasi, sebuah salib merah berdiri sebagai simbol luka, pengorbanan dan jeritan kemanusiaan yang tak lagi mampu disembunyikan. Ia bukan sekedar tanda yang diangkat ditengah kerumunan massa, melainkan sebuah pesan sunyi tentang penderitaan, ketidakadilan dan harapan akan  perubahan. 


Beberapa hari terakhir ini sejak 28 Oktober 2026, saya membaca dan menonton beberapa platform media sosial yang memposting atau mengunggah video demontrasi di Jakarta khususnya di jalan MH Thamrin dan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Demonstrasi ini bertepatan dengan peringatan hari sumpah pemuda yakni 28 Oktober. Pada  tulisan dan video unggahan itu terdapat ulasan atau penjelasan tentang demonstrasi yang disponsori oleh PMKRI yang melibatkan juga BEM UI dan aliansi masyarakat sipil, mereka turun ke jalan-jalan menyuarakan aspirasi masyarakat, khususnya masyarakat adat Papua. Terinspirasi dari perjuangan masyarakat adat Papua dan film dokumenter,  Pesta Babi: kolonialisme di zaman kita, para pendemo bergerak dengan sebuah salib merah berarak ditengah jalan sambil meneriakkan solidaritas bagi masyarakat adat Papua serta menolak penguasaan lahan oleh korporasi dan proyek strategis nasional (PSN). Kali ini tema utama demonstrasi adalah  "Indonesia sadar" dan  sungguh amat langka ketika melihat atau menonton peristiwa saat itu. Demonstrasi dan pemandangan di jalan MH Thamrin dan Bundaran HI tersebut kelihatan unik dan sedikit istimewa karena para pendemo membawa salib merah. 

Terlepas dari maksud dan tujuan kelompok PMKRI, BEM UI dan juga aliansi masyarakat sipil dalam menyuarakan aspirasinya, arakan salib merah menjadi sebuah pemandangan langka dalam sebuah demonstrasi sepanjang sejarah. Simbol keagamaan menjadi warna unik dalam sebuah demonstrasi dan itu punya makna tersendiri yang perlu dipahami. Ketika salib merah diangkat dalam sebuah demonstrasi, setiap orang pasti membaca dan memahaminya secara berbeda, tetapi satu hal pasti bahwa salib yang sesungguhnya bukan hanya salib yang diangkat tinggi ditengah kerumunan massa, melainkan simbol keberanian untuk memikul penderitaan sesama, membela mereka yang lemah dan memperjuangkan keadilan dan kebenaran tanpai kehilangan kasih, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik. 

Salib merah dapat dimaknai sebagai gambaran luka dan penderitaan manusia. Warna merah melambangkan darah, pengorbanan, sekaligus keberanian memperjuangkan kebenaran. Dalam terang iman Kristiani, salib mengingatkan kita akan penderitaan Yesus yang telah mengorbankan diri demi keselamatan umat manusia. Karena itu ketika salib dihadirkan dalam sebuah demonstrasi, hendaknya simbol tersebut dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan harus selalu berpihak pada kehidupan, kebenaran, keadilan dan martabat manusia. Demo dengan salib merah juga dapat menjadi sebuah pesan moral bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan. Bahwa dibalik setiap tuntutan masyarakat, ada kehidupan yang harus diperhatikan, ada air mata yang perlu diseka, ada suara kecil yang menunggu untuk didengar dan ada harapan yang tidak boleh diabaikan. Masyarakat tidak selalu turun ke jalan karena ingin menciptakan kegaduhan, tetapi terkadang karena mereka merasa bahwa jalan dialog dan penyampaian aspirasi  belum mendapat jawaban yang pasti. 
Namun perjuangan yang membawa simbol salib merah hendaknya tidak kehilangan makna salib itu sendiri. Salib mengajarkan kasih bukan kebencian, pengorbanan bukan kekerasan, keberanian bukan permusuhan. Oleh sebab itu demonstrasi yang membawa salib merah hendaknya berujung pada kedamaian dan pengangkatan marbata manusia, sehingga simbol suci salib jangan dijadikan alat untuk membenarkan tindakan yang melukai sesama. Pada akhirnya demo dengan salib merah, bukan hanya tentang sekelompok orang yang berkumpul dan menyampaikan tuntutan. Lebih dari itu, ia dapat menjadi sebuah seruan nurani; bahwa keadilan tidak boleh dikorbankan, kebenaran tidak boleh dibungkam dan kemanusiaan tidak boleh dilupakan. 

Sebab salib yang sesungguhnya bukan hanya salib yang diangkat tinggi ditengah kerumunan massa, melainkan keberanian untuk memikul penderitaan sesama, membela yang lemah dan memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kasih sejati. Ketika salib merah diangkat dalam sebuah demonstrasi  semoga setiap orang mampu membaca pesan dibaliknya; jangan biarkan darah dan air mata manusia menjadi harga yang harus dibayar demi sebuah kepentingan. Perjuangkanlah keadilan, tetapi jangan pernah kehilangan kemanusiaan. (Alfons H)


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG DIA YANG KUTINGGALKAN

MENYEMBUHKAN LUKA MASA LALU

PELANTIKAN BADAN PENGURUS THS-THM RANTING SAYORA